Bab Tentang Siapa yang Tidur dari Shalat, atau Melupakannya
Shahih oleh Al-Albani
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، - وَهُوَ الطَّيَالِسِيُّ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، - يَعْنِي ابْنَ الْمُغِيرَةِ - عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ أَنْ تُؤَخَّرَ صَلاَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ وَقْتُ أُخْرَى " .
Abu Qatadah melaporkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada kelalaian dalam tidur, sesungguhnya kelalaian itu hanya ketika seseorang dalam keadaan terjaga, yaitu ketika ia menunda shalat hingga masuk waktu shalat yang lain."