Bab Tentang Dua Keheningan Imam
Hasan oleh Darussalam
haddatsana jamilu ibnu alhasani ibni jamilin alatakiyyu, haddatsana abdu alala, haddatsana saidun, an qatadaha, ani alhasani, an samuraha ibni jundubin, qala saktatani hafizhtuhuma an rasuli allahi. faankara dzalika imranu ibnu alhushayni fakatabna ila ubai ibni kabin bialmadinahi fakataba anna samuraha qad hafizha. qala saidun faqulna liqatadaha ma hatani assaktatani qala idza dakhala fi shalatihi waidza faragha mina alqiraahi. tsumma qala badu waidza qaraa ghayri almaghdhubi alayhim wala addhallina. qala wakana yujibuhum idza faragha mina alqiraahi an yaskuta hatta yataradda ilayhi nafasuhu.
Diriwayatkan bahwa Samurah bin Jundab berkata: “Ada dua keheningan yang saya hafal dari Rasulullah ﷺ, tetapi `Imran bin Husain membantahnya. Kami menulis kepada Ubayy bin Ka'b di Al-Madinah, dan dia menulis bahwa Samurah memang menghafalnya.” (Salah satu perawi) Said berkata: “Kami bertanya kepada Qatadah: 'Apa dua keheningan ini?' Dia berkata: 'Ketika dia memulai shalatnya, dan ketika dia selesai membaca.' Kemudian dia berkata: 'Dan ketika dia membaca: 'Bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat.' Mereka suka (bagi imam) ketika dia selesai membaca untuk tetap diam sampai dia mendapatkan kembali napasnya.'