Bab Tentang Ikhsal
Shahih oleh Al-Albani
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، - يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ - عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، حَدَّثَنِي بَعْضُ، مَنْ أَرْضَى أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ، أَخْبَرَهُ أَنَّ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِنَّمَا جَعَلَ ذَلِكَ رُخْصَةً لِلنَّاسِ فِي أَوَّلِ الإِسْلاَمِ لِقِلَّةِ الثِّيَابِ ثُمَّ أَمَرَ بِالْغُسْلِ وَنَهَى عَنْ ذَلِكَ . قَالَ أَبُو دَاوُدَ يَعْنِي " الْمَاءَ مِنَ الْمَاءِ " .
Ubayy b. Ka’b melaporkan: Rasulullah (semoga keselamatan dan keberkahan tercurah kepada-Nya) memberikan keringanan di awal Islam karena sedikitnya pakaian yang dimiliki seseorang, bahwa seseorang tidak perlu mandi jika telah berhubungan seksual (dan tidak mengeluarkan mani). Namun kemudian beliau memerintahkan untuk mandi dalam keadaan tersebut dan melarang untuk tidak melakukannya.