Bab Keutamaan Orang yang Berdiri dengan Al-Qur'an dan Mengajarkannya
Shahih
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَمْرٌو النَّاقِدُ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، كُلُّهُمْ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، - قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، - حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ " .
Salim meriwayatkan dari ayahnya (Ibn 'Umar) bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada rasa iri kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan Allah Al-Qur'an, lalu ia membacanya di malam dan siang hari (dan juga mengamalkannya) dan seorang laki-laki yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia mengeluarkannya di malam dan siang hari (untuk kesejahteraan orang lain, mencari keridhaan Tuhan)."