Bab Kebolehan Berhubungan dengan Wanita Tawan setelah Masa Idah dan Jika Mereka Memiliki Suami yang Musyrik
Shahih
haddatsana ubaydu allahi ibnu umara ibni maysaraha alqawaririyyu, haddatsana yazidu ibnu zurayin, haddatsana saidu, ibnu abi arubaha an qatadaha, an shalihin abi alkhalili, an abi alqamaha alhasyimiyyi, an abi saidin, alkhudriyyi anna rasula allahi yawma hunaynin baatsa jaysyan ila awthasin falaqu aduwwan faqataluhum fazhaharu alayhim waashabu lahum sabaya fakaanna nasan min ashhabi rasuli allahi taharraju min ghisyyanihinna min ajli azwajihinna mina almusyrikina faanzala allahu azza wajalla fi dzalika waalmuhshanatu mina annisai ila ma malakat aymanukum a fahunna lakum halalun idza anqadhat iddatuhunna.
Abu Sa'id al-Khudri (semoga Allah meridhoi beliau) melaporkan bahwa pada Perang Hunain, Rasulullah ﷺ mengirimkan pasukan ke Autas dan bertemu musuh serta berperang dengan mereka. Setelah mengalahkan mereka dan mengambil tawanan, para sahabat Rasulullah (semoga Allah memberinya keselamatan) tampak ragu untuk berhubungan dengan wanita tawanan karena suami mereka adalah orang-orang musyrik. Kemudian Allah Yang Maha Tinggi menurunkan ayat mengenai hal itu: "Dan wanita yang sudah menikah, kecuali yang dimiliki oleh tangan kananmu (iv. 24)" (yaitu, mereka halal bagimu ketika masa idah mereka telah berakhir).