Bab dan dari Surat Al-Baqarah
Shahih oleh Darussalam
haddatsana abdu ibnu humaydin, haddatsana ubaydu allahi ibnu musa, an israila ibni yunusa, an abi ishaqa, ani albarai, qala kana ashhabu annabiyyi idza kana arrajulu shaiman fahadhara aliftharu fanama qabla an yufthira lam yakul laylatahu wala yawmahu hatta yumsiya wainna qaysa ibna shirmaha alanshariyya kana shaiman falamma hadharahu aliftharu ata amraatahu faqala hal indaki thaamun qalat la walakin anthaliqu faathlubu laka. wakana yawmahu yamalu faghalabathu aynuhu wajaathu amraatuhu falamma raathu qalat khaybahan laka. falamma antashafa annaharu ghusyiya alayhi fadzakara dzalika lilnnabiyyi fanazalat hadzihi alayahu : ( uhilla lakum laylaha asshiyami arrafatsu ila nisaikum ) fafarihu biha farahan syadidan : (fakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumu alkhaythu alabyadhu mina alkhaythi alaswadi mina alfajri ). qala abu isa hadza haditsun hasanun shahihun.
Diriwayatkan dari Al-Bara bin 'Azib: "Adalah kebiasaan di kalangan Sahabat Muhammad ﷺ, bahwa jika salah seorang dari mereka berpuasa dan makanan disajikan tetapi ia telah tidur sebelum makan, ia tidak akan makan malam itu, maupun hari berikutnya hingga malam. Qais bin Sirmah Al-Ansari berpuasa dan datang kepada istrinya pada saat Iftar, dan berkata kepadanya: 'Tidak, tetapi aku akan pergi dan membawa sesuatu untukmu.' Ia bekerja di siang hari, sehingga matanya (tidur) mengalahkannya. Kemudian istrinya datang, dan ketika ia melihatnya, ia berkata: 'Engkau akan kecewa.' Sekitar tengah hari berikutnya ia pingsan. Itu disebutkan kepada Nabi ﷺ, maka diturunkanlah ayat ini: 'Dihalalkan bagi kalian pada malam puasa berhubungan dengan istri-istri kalian. Maka mereka sangat senang dengan itu. 'Dan makan dan minumlah hingga benang putih (cahaya) fajar tampak jelas bagi kalian dari benang hitam (malam). (2:187)"