Bab Apa yang Dikatakan Tentang Menunda Shalat Dhuhur di Saat Terik Panas
Shahih oleh Darussalam
haddatsana mahmudu ibnu ghaylana, haddatsana abu dawuda atthayaasiyyu, qala anbaana syubahu, an muhajirin abi alhasani, an zaydi ibni wahbin, an abi dzarrin, anna rasula allahi kana fi safarin wamaahu bilalun faarada bilalun an yuqima faqala " abrid ". tsumma arada an yuqima faqala rasulu allahi " abrid fi azzhuhri ". qala hatta raayna faa attululi tsumma aqama fashalla faqala rasulu allahi " inna syiddaha alharri min fayhi jahannama faabridu ani asshalahi ". qala abu isa hadza haditsun hasanun shahihun.
Abu Dharr meriwayatkan: "Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan dan Bilal bersamanya. Maka ia ingin mengumandangkan adzan, tetapi beliau (Nabi) berkata: 'Tunggu hingga lebih sejuk.' Kemudian ia ingin mengumandangkan adzan, maka Rasulullah ﷺ berkata: 'Tunggu hingga waktu Dhuhur lebih sejuk.'" Ia (yaitu Abu Dharr) berkata: "Hingga kami melihat bayangan bukit-bukit, kemudian beliau memerintahkan agar iqamah dikumandangkan dan kemudian memimpin orang-orang dalam shalat. Rasulullah ﷺ berkata: 'Sesungguhnya teriknya panas adalah dari api neraka, maka tunggulah hingga lebih sejuk untuk shalat (Dhuhur).'"