Bab Apa yang Dikatakan tentang Siapa yang Menikahi Wanita Lalu Menceraikannya Sebelum Masuk, Apakah Dia Boleh Menikahi Putrinya atau Tidak
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " أَيُّمَا رَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا فَلاَ يَحِلُّ لَهُ نِكَاحُ ابْنَتِهَا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا فَلْيَنْكِحِ ابْنَتَهَا وَأَيُّمَا رَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَلاَ يَحِلُّ لَهُ نِكَاحُ أُمِّهَا " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لاَ يَصِحُّ مِنْ قِبَلِ إِسْنَادِهِ وَإِنَّمَا رَوَاهُ ابْنُ لَهِيعَةَ وَالْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ . وَالْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ وَابْنُ لَهِيعَةَ يُضَعَّفَانِ فِي الْحَدِيثِ . وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ امْرَأَةً ثُمَّ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا حَلَّ لَهُ أَنْ يَنْكِحَ ابْنَتَهَا وَإِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الاِبْنَةَ فَطَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا لَمْ يَحِلَّ لَهُ نِكَاحُ أُمِّهَا لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ ) وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ .
Amr bin Shu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya bahwa: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: "Siapa pun lelaki yang menikahi seorang wanita dan telah berhubungan dengannya, maka tidak halal baginya untuk menikahi putrinya. Jika dia belum berhubungan dengannya, maka silakan menikahi putrinya. Dan siapa pun lelaki yang menikahi seorang wanita dan dia berhubungan dengannya, atau tidak berhubungan dengannya, maka tidak halal baginya untuk menikahi ibunya." Abu 'Isa berkata: "Hadits ini tidak sah dari segi sanadnya, dan hanya diriwayatkan oleh Ibn Lahi'ah dan Al-Muthanna bin As-Sabbah dari Amr bin Shu'aib. Dan Al-Muthanna bin As-Sabbah dan Ibn Lahi'ah lemah dalam hadits. Dan amalan ini dipegang oleh sebagian besar ahli ilmu, mereka berkata: Jika seorang lelaki menikahi seorang wanita lalu menceraikannya sebelum dia berhubungan dengannya, maka halal baginya untuk menikahi putrinya. Dan jika dia menikahi putrinya lalu menceraikannya sebelum berhubungan dengannya, maka tidak halal baginya untuk menikahi ibunya, berdasarkan firman Allah Ta'ala: (وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ) dan ini adalah pendapat Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq.
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
