Bab Sifat Syibh Al-'Amd dan Siapa yang Berhak Mendapatkan Diyah bagi Janin dan Syibh Al-'Amd serta Penyebutan Perbedaan Istilah Para Perawi Berita Ibrahim dari Ubaid bin Nadhilah dari Al-Mughirah.
Shahih oleh Darussalam
akhbarana ahmadu ibnu utsmana ibni hakimin, qala haddatsana amrunw, an asbathin, an simakin, an ikrimaha, ani abni abbasin, qala kanati amraatani jaratani kana baynahuma shakhabun faramat ihdahuma alukhra bihajarin faasqathat ghulaman qad nabata syaruhu maytan wamatati almarahu faqadha ala alaqilahi addiyaha. faqala ammuha innaha qad asqathat ya rasula allahi ghulaman qad nabata syaruhu. faqala abu alqatilahi innahu kadzibun innahu waallahi ma astahall wala syariba wala akal famitsluhu yuthall. qala annabiyyu " asajun kasaji aljahiliyyahi wakihanatiha inna fi asshabiyyi ghurrahan ". qala abnu abbasin kanat ihdahuma mulaykaha waalukhra umma ghathifin.
Diriwayatkan bahwa Ibn 'Abbas berkata; "Ada dua wanita tetangga yang di antara mereka terjadi perselisihan. Salah satu dari mereka melemparkan batu kepada yang lain, sehingga ia menggugurkan seorang anak laki-laki - yang sudah tumbuh rambutnya - yang sudah mati, dan wanita itu juga meninggal. Dia memutuskan bahwa 'Aqilah harus membayar Diyah. Paman dari wanita itu berkata: 'Wahai Rasulullah, dia telah menggugurkan seorang anak laki-laki yang sudah tumbuh rambutnya.' Ayah dari si pembunuh berkata: 'Dia berbohong. Demi Allah, dia tidak pernah menangis atau berteriak (pada saat lahir), tidak minum dan tidak makan. Seorang seperti itu harus diabaikan.' Nabi ﷺ bersabda: 'Apakah ini syair seperti syair Jahiliyah dan para dukun? Seorang budak harus diberikan (sebagai Diyah) untuk anak laki-laki itu.' Ibn 'Abbas berkata: 'Salah satu dari mereka adalah Mulaikah dan yang lainnya adalah Umm Ghatif.'