Bab Disunnahkannya Shalat Dhuha dan Bahwa Minimalnya Dua Rakaat dan Maksimalnya Delapan Rakaat serta Anjuran untuk Menjaganya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ . وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ .
Urwah melaporkan bahwa Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah (ﷺ) shalat sunnah Dhuha sama sekali. Dan aku biasa melakukannya, dan sesungguhnya Rasulullah (ﷺ) terkadang meninggalkan suatu amalan yang sebenarnya beliau cintai, karena takut jika amalan itu dikerjakan oleh orang banyak, maka akan menjadi wajib bagi mereka.”
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
