Bab Apa yang Dikenakan oleh Orang yang Berihram untuk Haji Setelah Tiba di Mekkah dari Tawaf dan Sa'i
Shahih
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، قَالَ سَأَلْنَا ابْنَ عُمَرَ عَنْ رَجُلٍ، قَدِمَ بِعُمْرَةٍ فَطَافَ بِالْبَيْتِ وَلَمْ يَطُفْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَيَأْتِي امْرَأَتَهُ فَقَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَطَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّى خَلْفَ الْمَقَامِ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ سَبْعًا وَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ .
Diriwayatkan bahwa Amr bin Dinar berkata: "Kami bertanya kepada Ibn Umar tentang seorang yang datang untuk Umrah dan telah tawaf di Ka'bah tetapi tidak berlari antara Safa dan Marwah, apakah dia diperbolehkan (melepaskan Ihram) dan berhubungan dengan istrinya. Dia menjawab: "Rasulullah ﷺ telah tawaf di Ka'bah tujuh kali dan melakukan dua rakaat setelah tinggal (di Arafah), dan berlari antara Safa dan Marwah tujuh kali. Sesungguhnya ada pada diri Rasulullah ﷺ teladan yang baik untukmu."