Bab Tentang Mut'ah dalam Haji dan Umrah
Shahih
haddatsana muhammadu ibnu almutsanna, wabnu, bassyarin qala abnu almutsanna haddatsana muhammadu ibnu jafarin, haddatsana syubahu, qala samitu qatadaha, yuhadditsu an abi nadhraha, qala kana abnu abbasin yamuru bialmutahi wakana abnu azzubayri yanha anha qala fadzakartu dzalika lijabiri ibni abdi allahi faqala ala yadaa dara alhaditsu tamattana maa rasuli allahi. falamma qama umaru qala inna allaha kana yuhillu lirasulihi ma syaa bima syaa wainna alqurana qad nazala manazilahu faatimmu alhajja waalumraha lillahi kama amarakumu allahu waabittu nikaha hadzihi annisai falan uta birajulin nakaha amraahan ila ajalin ila rajamtuhu bialhijarahi.
Abu Nadra melaporkan: Ibn 'Abbas memerintahkan pelaksanaan Mut'a dengan mengenakan ihram untuk 'Umrah selama bulan Dhul-Hijjah dan setelah menyelesaikannya, kemudian mengenakan ihram untuk Haji, tetapi Ibn Zubair melarangnya. Saya menyebutkan hal ini kepada Jabir bin Abdullah dan dia berkata: Melalui saya hadits ini telah disebarkan. Kami memasuki keadaan ihram sebagai Tamattu' bersama Rasulullah ﷺ. Ketika 'Umar diangkat sebagai Khalifah, dia berkata: Sesungguhnya Allah telah menghalalkan untuk Rasul-Nya ﷺ apa yang Dia sukai dan sebagaimana Dia sukai. Dan (setiap perintah) Al-Qur'an telah diturunkan untuk setiap keadaan. Maka laksanakanlah Haji dan Umrah untuk Allah sebagaimana Allah telah memerintahkan kalian; dan pastikan dengan (syarat yang benar) pernikahan wanita-wanita tersebut (dengan siapa kalian telah melakukan Mut'a). Dan setiap orang yang datang kepada saya dengan pernikahan yang ditentukan (Mut'a), saya akan melemparkan batu kepadanya (sampai mati).