Bab Apa yang Diperbolehkan bagi Muhrim dalam Haji atau Umrah dan Apa yang Tidak Diperbolehkan serta Penjelasan tentang Larangan Menggunakan Wewangian
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَأَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، جَمِيعًا عَنْ حَمَّادٍ، - قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، - عَنْ عَمْرٍو، عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، - رضى الله عنهما - قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَخْطُبُ يَقُولُ " السَّرَاوِيلُ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الإِزَارَ وَالْخُفَّانِ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ النَّعْلَيْنِ " . يَعْنِي الْمُحْرِمَ .
Ibn 'Abbas (Allah be pleased with both of them) melaporkan: Saya mendengar Rasulullah SAW ketika beliau berkhutbah berkata: 'Adapun celana, bagi siapa yang tidak menemukan kain penutup, maka ia boleh memakainya; dan juga kaus kaki, bagi siapa yang tidak menemukan sandal, maka ia boleh memakainya. Ini berlaku bagi orang yang sedang ihram.'
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
