Bab Apa yang Dikatakan dalam Menggali
Hasan oleh Darussalam
haddatsana umaru ibnu syabbaha ibni ubaydaha ibni zaydin, haddatsana ubaydu ibnu thufaylin almuqriu, haddatsana abdu arrahmani ibnu abi mulaykaha alqurasyiyyu, haddatsana abnu abi mulaykaha, an aisyaha, qalat lamma mata rasulu allahi akhtalafu fi allahdi waassyaqqi hatta takallamu fi dzalika wartafaat ashwatuhum. faqala: umaru la tashkhabu inda rasuli allahi hayyan wala mayyitan aw kalimahan nahwaha. faarsalu ila assyaqqaqi waalahidi jamian fajaa alahidu falahada lirasuli allahi tsumma dufina.
Telah diceritakan kepada kami Umar bin Syabbah bin Ubaidah bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Tufail Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Mulaykah Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ibn Abi Mulaykah, dari Aisyah, ia berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ meninggal, mereka berbeda pendapat apakah kuburnya harus memiliki celah atau parit di tanah, hingga mereka berbicara dan mengangkat suara mereka tentang hal itu. Kemudian Umar berkata: 'Jangan berteriak di hadapan Rasulullah ﷺ, baik hidup maupun mati,' atau kata-kata yang sejenis. Maka mereka memanggil orang yang membuat celah dan orang yang menggali kubur tanpa celah, dan orang yang biasa membuat celah datang dan menggali kubur dengan celah untuk Rasulullah ﷺ, kemudian beliau ﷺ dimakamkan."