Bab Izin Masuk Karena Pandangan
Shahih
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ الزُّهْرِيُّ حَفِظْتُهُ كَمَا أَنَّكَ هَا هُنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ اطَّلَعَ رَجُلٌ مِنْ جُحْرٍ فِي حُجَرِ النَّبِيِّ ﷺ وَمَعَ النَّبِيِّ ﷺ مِدْرًى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ فَقَالَ " لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْظُرُ لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ، إِنَّمَا جُعِلَ الاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ ".
haddatsana aliyyu ibnu abdi allahi, haddatsana sufyanu, qala azzuhriyyu hafizhtuhu kama annaka ha huna an sahli ibni sadin qala atthalaa rajulun min juhrin fi hujari annabiyyi wamaa annabiyyi midran yahukku bihi rasahu faqala " law alamu annaka tanzhuru lathaantu bihi fi aynika, innama juila alistidzanu min ajli albashari ".
Diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'd, bahwa seorang lelaki mengintip melalui lubang ke dalam rumah Nabi, sementara Nabi sedang memegang sebuah sisir besi untuk menggaruk kepalanya. Nabi berkata, 'Seandainya aku tahu bahwa kamu sedang melihat, pasti aku akan menusuk matamu dengan ini (yaitu, sisir).' Sesungguhnya, perintah untuk meminta izin masuk telah ditetapkan karena pandangan itu, (agar seseorang tidak melihat secara tidak sah keadaan orang lain).
Ringkasan, rujukan ulama, dan hikmah praktis