Bab Siapa yang Tidak Menganggap Kafir Orang yang Mengatakan Itu dengan Taktik atau Jahil
Shahih
haddatsana muhammadu ibnu abadaha, akhbarana yazidu, akhbarana salimun, haddatsana amru ibnu dinarin, haddatsana jabiru ibnu abdi allahi, anna muadza ibna jabalin rdh allah nh kana yushalli maa annabiyyi tsumma yati qawmahu fayushalli bihimu asshalaha, faqaraa bihimu albaqaraha qala fatajawwaza rajulun fashalla shalahan khafifahan, fabalagha dzalika muadzan faqala innahu munafiqun. fabalagha dzalika arrajula, faata annabiyya faqala ya rasula allahi inna qawmun namalu biaydina, wanasqi ibinawadhihina, wainna muadzan shalla ibina albarihaha, faqaraa albaqaraha fatajawwaztu, fazaama anni munafiqun. faqala annabiyyu " ya muadzu afattanun anta tsalatsan aqra waassyamsi wadhuhaha wasabbihi asma rabbika alala wanahwaha ".
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah: Mu'adh bin Jabal biasa shalat bersama Nabi ﷺ dan kemudian pergi untuk memimpin kaumnya dalam shalat. Suatu ketika ia memimpin orang-orang dalam shalat dan membaca Surat Al-Baqarah. Seorang lelaki meninggalkan (barisan orang yang shalat) dan melakukan shalat (ringan) secara terpisah dan pergi. Ketika Mu'adh mengetahui hal itu, ia berkata, "Dia (lelaki itu) adalah seorang munafik." Kemudian lelaki itu mendengar apa yang dikatakan Mu'adh tentang dirinya, maka ia datang kepada Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah! Kami adalah orang-orang yang bekerja dengan tangan kami dan mengairi (ladang kami) dengan unta kami. Semalam Mu'adh memimpin kami dalam shalat (malam) dan ia membaca Surat Al-Baqarah, jadi saya melakukan shalat saya secara terpisah, dan karena itu, ia menuduh saya sebagai seorang munafik." Nabi memanggil Mu'adh dan berkata tiga kali, "Wahai Mu'adh! Apakah kamu menyulitkan orang-orang? Bacalah 'Washshamsi wad-uhaha' (91) atau 'Sabbih isma Rabbi ka-l-A'la' (87) atau yang semisalnya."