Bab Janda
Shahih
haddatsana abu annumani, haddatsana husyaymun, haddatsana sayyarun, ani assyabiyyi, an jabiri ibni abdi allahi, qala qafalna maa annabiyyi min ghazwahin fataajjaltu ala bairin li qathufin, falahiqani rakibun min khalfi, fanakhasa bairi bianazahin kanat maahu, fanthalaqa bairi kaajwadi ma anta rain mina alibili, faidza annabiyyu faqala " ma yujiluka ". qultu kuntu haditsa ahdin biurusin. qala " bikran am tsayyiban ". qultu tsayyibun. qala " fahala jariyahan tulaibuha watulaibuka ". qala falamma dzahabna linadkhula qala " amhilu hatta tadkhulu laylan a isyaan lika tamtasyitha assyaitsahu watastahidda almughibahu ".
Diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdullah: Ketika kami kembali dari sebuah Ghazwa (Perang Suci) bersama Nabi, aku mulai mengendalikan unta ku dengan cepat, karena unta itu malas. Seorang penunggang datang dari belakangku dan menusuk unta ku dengan tombak yang dia miliki, dan tiba-tiba unta ku mulai berlari secepat unta terbaik yang mungkin kau lihat. Ternyata penunggang itu adalah Nabi ﷺ sendiri. Dia berkata, 'Apa yang membuatmu terburu-buru?' Aku menjawab, 'Aku baru saja menikah.' Dia berkata, 'Apakah kamu menikahi seorang perawan atau janda?' Aku menjawab, 'Janda.' Dia berkata, 'Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis muda agar kamu bisa bermain dengannya dan dia bermain denganmu?' Ketika kami akan masuk (Medina), Nabi ﷺ berkata, 'Tunggu agar kamu bisa masuk (Medina) di malam hari agar wanita yang rambutnya acak-acakan bisa menyisir rambutnya dan yang suaminya telah pergi bisa mencukur area kemaluannya.'