Bab Apakah Mu'takif Boleh Keluar untuk Kebutuhannya ke Pintu Masjid
Shahih
haddatsana abu alyamani, akhbarana syuaybun, ani azzuhriyyi, qala akhbarani aliyyu ibnu alhusayni rdh allah nhm anna shafiyyaha, zawja annabiyyi akhbarathu annaha jaat rasula allahi tazuruhu fi atikafihi fi almasjidi, fi alasyri alawakhiri min ramadhana, fatahaddatsat indahu saahan, tsumma qamat tanqalibu, faqama annabiyyu maaha yaqlibuha, hatta idza balaghat bb almasjidi inda bb ummi salamaha marra rajulani mina alanshari, fasallama ala rasuli allahi faqala lahuma annabiyyu " ala rislikuma innama hiya shafiyyahu ibintu huyain ". faqala subhana allahi ya rasula allahi. wakabura alayhima. faqala annabiyyu " inna assyaythana yablughu mina alinsani mablagha addami, wainni khasyitu an yaqdzifa fi qulubikuma syayan ".
Ali bin Al-Husain berkata: Safiya, istri Nabi ﷺ memberitahuku bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah ﷺ saat beliau sedang i'tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Dia berbincang-bincang dengan beliau sejenak, kemudian dia berdiri untuk pulang. Nabi ﷺ mengantarnya. Ketika mereka sampai di pintu masjid, di depan pintu Um-Salama, dua orang laki-laki dari Ansar lewat dan mereka memberi salam kepada Rasulullah. Beliau berkata kepada mereka: "Jangan tergesa-gesa! Dia adalah (istriku) Safiya binti Huyai." Keduanya berkata, "Subhan Allah, (Bagaimana bisa kami berpikir buruk) wahai Rasulullah!" Dan mereka merasa hal itu. Nabi berkata kepada mereka, "Setan menjangkau seluruh tubuh manusia seperti darah menjangkau di dalamnya, (di seluruh tubuh seseorang). Saya khawatir setan mungkin menanamkan pikiran jahat di dalam hati kalian."