Bab Tidak Boleh Tawaf Dalam Keadaan Telanjang dan Tidak Boleh Haji Bagi Orang Musyrik
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، قَالَ يُونُسُ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ حَدَّثَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ ـ رضى الله عنه ـ بَعَثَهُ فِي الْحَجَّةِ الَّتِي أَمَّرَهُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَوْمَ النَّحْرِ فِي رَهْطٍ يُؤَذِّنُ فِي النَّاسِ " أَلاَ لاَ يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ، وَلاَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ ".
Abu Huraira menceritakan bahwa pada tahun sebelum Haji terakhir Rasulullah (ﷺ) ketika Allah mengangkat Abu Bakr sebagai pemimpin jemaah haji, Abu Bakr mengutusku bersama sekelompok orang untuk mengumumkan kepada masyarakat: 'Tidak ada orang musyrik yang diperbolehkan melakukan Haji setelah tahun ini, dan tidak ada orang yang telanjang yang diperbolehkan melakukan Tawaf di Ka'bah.'
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
