Bab Permulaan Wajibnya Puasa
Hasan oleh Al-Albani
haddatsana ahmadu ibnu muhammadi ibni syabbuyaha, haddatsani aliyyu ibnu husayni ibni waqidin, an abihi, an yazida annahwiyyi, an ikrimaha, ani abni abbasin, ya ayyuha adzina amanu kutiba alaykumu asshiyamu kama kutiba ala adzina min qablikum fakana annasu ala ahdi annabiyyi idza shallawu alatamaha haruma alayhimu atthaamu waassyarabu waannisau washamu ila alqabilahi fakhtana rajulun nafsahu fajamaa amraatahu waqad shalla alisyaa walam yufthir faarada allahu azza wajalla an yajala dzalika yusran liman baqiya warukhshahan wamanfaahan faqala subhanahu alima allahu annakum kuntum takhtanuna anfusakum. wakana hadza mimma nafaa allahu bihi annasa warakkhasha lahum wayassara.
Diriwayatkan dari Abdullah ibn Abbas: Ibn Abbas menjelaskan ayat Al-Qur'an berikut: "Wahai orang-orang yang beriman! Puasa diwajibkan atas kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu". Pada masa Nabi ﷺ, ketika orang-orang melaksanakan shalat malam, mereka diminta untuk menahan diri dari makanan dan minuman serta (hubungan dengan) wanita, mereka berpuasa hingga malam berikutnya. Seorang laki-laki mengkhianati dirinya dan berhubungan dengan istrinya setelah dia melaksanakan shalat malam, dan dia tidak membatalkan puasanya. Maka Allah, Yang Maha Tinggi, bermaksud untuk memudahkan (puasa) bagi orang-orang yang tersisa, dengan memberikan keringanan dan kemudahan. Allah, Yang Maha Mulia, berfirman: "Allah mengetahui apa yang kamu lakukan secara sembunyi-sembunyi di antara dirimu." Dengan ini Allah memberikan manfaat kepada orang-orang dan memberikan keringanan serta kemudahan kepada mereka.