Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 970 tentang Larangan menginginkan kematian karena cobaan berat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang mukmin tidak boleh menginginkan kematian hanya karena beratnya musibah atau sakit yang menimpanya. Khabab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu — yang mengalami ujian berat — menahan diri dari keinginan mati semata karena mengingat larangan Rasulullah ﷺ. Jika seseorang sangat terdesak, ia boleh berdoa memohon kebaikan dari Allah, bukan meminta mati secara langsung.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 286

وَلَا تَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Catatan: lafaz ini adalah bagian dari hadits, bukan ayat. Adapun ayat yang paling dekat maknanya adalah firman Allah:

QS. Al-Baqarah [2]: 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebaikan yang dikerjakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya."

Hadits terkait:

  1. Hadits Khabab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu — diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 970), dan beliau menyatakan: "Hadits Khabab adalah hadits hasan shahih." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang semakna.
  2. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ وَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Terjemahan: "Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian menginginkan kematian karena musibah yang menimpanya. Hendaklah ia berkata: 'Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila wafat itu lebih baik bagiku.'" (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, juga Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum, dan yang dibolehkan hanyalah memohon kepada Allah dengan doa yang disebutkan dalam hadits Anas.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa larangan menginginkan kematian berlaku ketika seseorang menginginkannya karena keluhan dan ketidaksabaran, bukan karena dorongan iman atau rindu kepada Allah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa para salaf menahan diri dari menginginkan kematian meski berat ujiannya, karena mereka memahami bahwa hidup adalah kesempatan beramal.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Khabab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling berat ujiannya. Ia pernah disiksa di Mekah karena keislamannya, dan di akhir hayatnya ia menderita penyakit yang membuatnya harus melakukan kayy (besi panas) di perutnya sebagai pengobatan. Meskipun demikian, ia tidak menginginkan kematian, karena Rasulullah ﷺ melarangnya.

Perkataannya "Saya tidak tahu ada seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang mengalami cobaan seperti yang saya alami" menunjukkan betapa beratnya ujian yang ia rasakan. Namun ia tetap menahan diri, dan berkata: "Seandainya tidak ada larangan dari Rasulullah ﷺ untuk menginginkan kematian, niscaya saya akan menginginkannya."

Pemahaman ulama:

  1. Larangan menginginkan kematian karena musibah — Ini adalah pendapat yang disepakati oleh ulama yang tercantum dalam daftar rujukan. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa larangan ini berlaku ketika seseorang menginginkan kematian karena tidak sabar menghadapi ujian.
  2. Pengecualian — Para ulama seperti Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab menyebutkan bahwa menginginkan kematian boleh dalam kondisi tertentu, misalnya:
  • Karena kekhawatiran fitnah dalam agama (seperti yang disebutkan dalam hadits lain).
  • Karena kerinduan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan karena keluhan.
  • Namun tetap yang lebih utama adalah memohon kepada Allah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
  1. Doa yang diajarkan — Hadits Anas bin Malik memberikan solusi: jika seseorang merasa berat, hendaklah ia berdoa dengan doa "Allahumma ahyini ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li" (Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila wafat itu lebih baik bagiku).
  2. Hikmah dari kisah Khabab — Ibnu Rajab menyebutkan bahwa para salaf memahami bahwa hidup adalah ladang amal. Selama masih hidup, seseorang masih bisa bertaubat, beribadah, dan memperbaiki diri. Karena itu, mereka menahan diri dari menginginkan kematian meski berat ujiannya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membolehkan menginginkan kematian jika seseorang takut terjerumus dalam fitnah agama, berdasarkan hadits lain. Namun Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menegaskan bahwa yang lebih utama adalah tetap memohon kepada Allah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ, dan tidak menginginkan kematian secara mutlak.

Story Telling

Khabab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang masuk Islam di masa awal. Ia pernah disiksa dengan cara dibakar punggungnya oleh orang-orang Quraisy. Di akhir hayatnya, ia menderita sakit yang membuatnya harus melakukan kayy (besi panas) di perutnya.

Harithah bin Mudarrib — seorang tabi'in — menceritakan bahwa ia masuk menemui Khabab yang sedang sakit. Khabab berkata: "Saya tidak tahu ada seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang mengalami cobaan seperti yang saya alami. Sesungguhnya saya tidak dapat menemukan satu dirham pun pada masa Nabi ﷺ, dan (sekarang) di luar rumah saya ada empat puluh ribu. Seandainya tidak ada larangan dari Rasulullah ﷺ untuk menginginkan kematian, niscaya saya akan menginginkannya."

Hikmah: Khabab menunjukkan bahwa meskipun seseorang memiliki harta yang banyak, itu tidak menjamin kebahagiaan. Ujian fisik dan mental bisa saja datang. Namun seorang mukmin tetap menahan diri dari menginginkan kematian, karena ia tahu bahwa hidup adalah kesempatan untuk beramal dan bertaubat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menginginkan kematian karena musibah — Baik sakit, kesulitan ekonomi, atau masalah lainnya. Tahan diri dan bersabarlah.
  2. Berdoalah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ — "Allahumma ahyini ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li."
  3. Ingatlah bahwa hidup adalah kesempatan beramal — Selama masih hidup, kita masih bisa bertaubat, beribadah, dan memperbaiki diri.
  4. Bersabarlah dan yakinlah bahwa Allah tidak membebani di luar kemampuan — Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286.
  5. Jangan mengeluh berlebihan — Sampaikan keluhan hanya kepada Allah, dan tetap husnuzan kepada-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?