Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 785 tentang Malaikat bershalawat untuk orang berpuasa saat orang makan di hadapannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang berpuasa: ketika ada orang lain makan di hadapannya, para malaikat mendoakan (bershalawat) untuknya hingga orang yang makan selesai atau kenyang. Ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga mendatangkan keberkahan dan doa dari makhluk mulia Allah. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Ummu 'Umarah binti Ka'b Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha, dalam Jami' At-Tirmidzi no. 785, Kitab Puasa, Bab Keutamaan Orang Berpuasa Ketika Makan di Hadapannya. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih, dan lebih shahih daripada hadits Syarik."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan shalawat malaikat:

QS. Al-Ahzab [33]: 43

صَلَّىٰ عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

"Dialah yang bershalawat kepadamu (Muhammad) dan malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin."

Kaitan ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa shalawat malaikat kepada manusia bermakna doa dan istighfar mereka. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa shalawat Allah berarti rahmat, shalawat malaikat berarti doa dan permohonan ampun.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ menjenguk Ummu 'Umarah radhiyallahu 'anha, lalu beliau disuguhi makanan. Beliau mengajaknya makan, namun ia menyatakan sedang berpuasa. Maka Nabi ﷺ menyampaikan kabar gembira: para malaikat bershalawat (mendoakan) orang yang berpuasa selama ada orang makan di sisinya, hingga orang itu selesai makan atau kenyang.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

  1. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalawat malaikat di sini bermakna doa dan istighfar untuk orang yang berpuasa. Ini adalah keutamaan yang khusus diberikan kepada orang berpuasa, sebagai ganti dari ketidakikutsertaannya makan bersama.
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang berpuasa meskipun ia hanya duduk menemani orang makan. Kehadirannya mendatangkan keberkahan karena doa malaikat.
  3. Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menuturkan bahwa salah satu hikmah hadits ini adalah menghibur orang yang berpuasa yang merasa berat ketika melihat orang lain makan. Allah menggantinya dengan doa para malaikat, yang lebih baik daripada sekadar ikut makan.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab-kitabnya menegaskan bahwa ini termasuk karunia Allah yang luas bagi orang berpuasa, dan menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ibadah individual, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
  5. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya seseorang tetap menemani orang yang makan meskipun ia sedang berpuasa, karena akan mendapatkan doa malaikat. Beliau juga menegaskan bahwa ini berlaku umum, baik puasa wajib maupun sunnah.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum. Semuanya sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang berpuasa yang menemani orang makan. Perbedaan hanya pada redaksi "hingga mereka selesai" atau "hingga mereka kenyang" — namun ini hanya variasi riwayat, bukan pertentangan makna.

Yang paling kuat menurut dalil:

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini shahih dan berlaku umum untuk semua puasa (wajib maupun sunnah), sebagaimana ditegaskan Imam At-Tirmidzi dan disepakati oleh ulama setelahnya. Keutamaan ini didapatkan selama orang yang berpuasa duduk menemani orang yang makan dengan niat baik dan tidak mencela.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ummu 'Umarah binti Ka'b Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha adalah seorang wanita mulia dari kaum Anshar yang dikenal keberaniannya. Ia pernah ikut serta dalam beberapa peperangan bersama Nabi ﷺ, termasuk Perang Uhud, dan berperan sebagai perawat serta pemberi minum kepada para mujahidin.

Pada suatu hari, Nabi ﷺ berkunjung ke rumahnya. Sebagai tuan rumah yang baik, ia menyajikan makanan. Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang mengajaknya makan bersama. Namun dengan penuh adab, ia berkata: "Saya sedang berpuasa." Mendengar itu, Nabi ﷺ tidak mencelanya, melainkan memberikan kabar gembira: para malaikat sedang mendoakannya. Betapa indahnya — ia menahan diri dari makanan, tetapi Allah menggantinya dengan doa dari malaikat-Nya.

Hikmah dari kisah ini: seorang muslim yang berpuasa hendaknya tetap bergaul dengan baik, menemani saudaranya yang makan, dan tidak merasa dirugikan. Justru di situlah keberkahan dan doa malaikat hadir. (Sumber: Jami' At-Tirmidzi dan penjelasan para ulama dalam daftar.)

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi yang berpuasa: Tetap duduk menemani keluarga atau saudara yang makan, jangan menjauh atau merasa terganggu. Justru di situlah doa malaikat turun.
  2. Bagi yang makan di hadapan orang berpuasa: Hendaknya menghormati dan tidak berlebihan, serta mendoakan kebaikan untuk saudaranya yang berpuasa.
  3. Keutamaan ini berlaku umum: Baik puasa wajib (Ramadhan) maupun puasa sunnah, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al-Utsaimin.
  4. Jangan mencela atau merendahkan: Hadits ini mengajarkan adab lembut. Nabi ﷺ tidak memaksa Ummu 'Umarah makan, tetapi menghiburnya dengan kabar gembira.
  5. Perbanyak niat baik: Duduk menemani orang makan dengan niat mengikuti sunnah akan mendatangkan pahala doa malaikat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?