Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 764 tentang Puasa untuk Allah dan ganjarannya langsung dari-Nya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar ibadah puasa: setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya mulai dari sepuluh kali hingga tujuh ratus kali, namun puasa memiliki keistimewaan khusus karena Allah langsung menyatakan "Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." Puasa juga menjadi benteng pelindung dari api neraka, dan bau mulut orang berpuasa justru lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Ketika dicela oleh orang bodoh, orang yang berpuasa dianjurkan menjawab dengan lembut: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa."

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melipatgandakan pahala amal saleh, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini bahwa kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah melipatgandakan pahala sesuai kehendak-Nya, dan puasa termasuk amal yang pahalanya dilipatgandakan tanpa batas tertentu karena Allah menyandarkannya langsung kepada diri-Nya.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari jalur Sa'id bin al-Musayyib (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan), dan dicatat oleh Imam at-Tirmidzi dalam Kitab Puasa, Bab Apa yang Dikatakan tentang Keutamaan Puasa (no. 764). At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan gharib dari jalur ini.

Hadits senada juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dengan lafaz yang serupa, di antaranya:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

"Setiap amal anak Adam dilipatgandakan: satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyandaran puasa kepada Allah ("Puasa itu untuk-Ku") menunjukkan kemuliaan dan keikhlasan khusus dalam ibadah puasa, karena puasa adalah amal yang paling tersembunyi dan paling terjaga dari riya.

Penjelasan Rinci

Pertama: Pelipatgandaan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi ini bahwa setiap kebaikan dibalas minimal sepuluh kali lipat, dan bisa mencapai tujuh ratus kali lipat bahkan lebih. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa angka tujuh ratus bukanlah batas maksimal, melainkan penyebutan yang menunjukkan besarnya karunia Allah, karena dalam ayat lain Allah menyatakan "Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki" (QS. Al-Baqarah [2]: 261) tanpa batas tertentu. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa pelipatgandaan ini berbeda-beda tergantung keikhlasan, kekhusyukan, dan kualitas amal seseorang.

Kedua: Keistimewaan puasa — "Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang membalasnya."

Para ulama menjelaskan beberapa makna dari kalimat ini. Imam an-Nawawi menyebutkan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa Allah mengkhususkan puasa karena puasa adalah ibadah yang paling murni keikhlasannya, tidak terlihat oleh manusia, dan tidak ada unsur pamer di dalamnya. Berbeda dengan shalat, sedekah, atau haji yang bisa terlihat orang lain, puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabb-nya. Karena itu Allah menyandarkannya langsung kepada diri-Nya dan berjanji membalasnya secara khusus.

Ibnul Qayyim menambahkan bahwa penyandaran ini menunjukkan kemuliaan puasa di sisi Allah, sebagaimana Allah menyandarkan Ka'bah kepada diri-Nya ("Baitullah") dan menyandarkan Nabi Isa sebagai "Ruhullah" — semua ini menunjukkan pengkhususan dan pemuliaan, bukan menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat seperti makhluk.

Ketiga: Puasa adalah perisai (junnah) dari api neraka.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa puasa menjadi benteng yang melindungi seseorang dari api neraka, sebagaimana perisai melindungi seorang pejuang di medan perang. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa puasa melindungi dari syahwat, dari kemaksiatan, dan dari api neraka. Karena itu puasa disebut "junnah" — pelindung — baik di dunia (melindungi dari hawa nafsu) maupun di akhirat (melindungi dari neraka).

Keempat: Bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.

Ini adalah bentuk pemuliaan Allah terhadap orang yang berpuasa. Bau mulut yang tidak sedap di mata manusia, justru bernilai harum di sisi Allah karena muncul sebagai konsekuensi ketaatan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa Allah menghargai pengorbanan orang yang berpuasa, dan bahwa penilaian Allah berbeda dengan penilaian manusia. Al-Qurthubi (dalam penjelasan yang dinukil para ulama) menyebutkan bahwa bau tersebut akan menjadi harum di akhirat, atau maknanya adalah Allah memuliakan orang yang berpuasa di hadapan para malaikat.

Kelima: Adab ketika dicela orang bodoh.

Jika seseorang dicaci atau diajak bertengkar oleh orang bodoh saat berpuasa, hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa." Ini adalah perintah untuk menahan diri, tidak membalas celaan, dan mengingatkan diri sendiri bahwa sedang berpuasa. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i menyebutkan bahwa ucapan ini bisa diucapkan dengan lisan (agar diketahui orang lain) atau cukup dalam hati (untuk mengingatkan diri sendiri). Yang paling utama adalah menggabungkan keduanya: menahan diri dari membalas dan mengingatkan diri bahwa puasa menuntut kesabaran.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah ucapan "inni sha'im" (sesungguhnya aku sedang berpuasa) diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati. Imam an-Nawawi merajihkan bahwa diucapkan dengan lisan jika dikhawatirkan terjadi pertengkaran, agar orang yang mencela mengetahui dan berhenti. Namun jika tidak ada manfaatnya, cukup dalam hati. Yang jelas, hadits ini mengajarkan adab mulia: tidak membalas kebodohan dengan kebodohan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib rahimahullah — salah satu perawi hadits ini dan seorang Tabi'in yang sangat dihormati — pernah ditanya tentang makna "Puasa itu untuk-Ku." Beliau menjawab bahwa puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak bisa dilihat orang lain, sehingga tidak ada ruang untuk riya. Berbeda dengan shalat yang bisa dilihat, sedekah yang bisa diketahui, atau haji yang tampak di depan umum. Puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabb-nya, karena itu Allah menyandarkannya langsung kepada diri-Nya.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: "Kapan seorang hamba mengetahui bahwa puasanya diterima?" Beliau menjawab dengan penuh tawadhu: "Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan amalnya diterima, karena itu hendaklah ia terus berharap dan terus beramal." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menilai amal, tidak merasa aman dari siksa Allah, dan tidak merasa bangga dengan amal sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlaslah dalam berpuasa. Puasa adalah ibadah rahasia; jangan kotori dengan riya atau pamer. Ingatlah bahwa Allah langsung yang akan membalasnya.
  2. Yakinlah pada besarnya pahala. Setiap kebaikan dibalas minimal sepuluh kali lipat, dan bisa hingga tujuh ratus kali atau lebih. Jangan remehkan amal kecil, terutama di bulan Ramadhan.
  3. Jadikan puasa sebagai pelindung. Puasa melindungi dari syahwat, kemaksiatan, dan api neraka. Jagalah puasa dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi pahalanya.
  4. Tahan diri saat dicela. Jika ada yang mengajak bertengkar saat kita berpuasa, katakan dengan lembut: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa." Jangan balas kebodohan dengan kebodohan.
  5. Jangan merasa aman dari penolakan amal. Para salaf seperti Imam Ahmad tetap khawatir amalnya tidak diterima. Berdoalah agar Allah menerima puasa kita, bukan merasa pasti diterima.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?