Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 70 tentang Azab kubur akibat tidak bersuci dari kencing dan adu domba

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa dua orang yang telah meninggal sedang disiksa di alam kubur karena dua dosa yang dianggap remeh oleh banyak orang, padahal akibatnya sangat berat. Yang pertama karena tidak bersuci dengan benar setelah berkemih, dan yang kedua karena suka mengadu domba (namimah). Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan diri dari najis dan menjaga lisan dari perbuatan dosa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Thaharah, Bab Apa yang Dikatakan tentang Penegasan dalam Berkemih, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Teks hadits lengkap dengan harakat:

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، وَقُتَيْبَةُ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، قَالَ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا، يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ مَرَّ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ "إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ"

Terjemahan:

"Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ melewati dua kuburan lalu bersabda: 'Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena perkara yang besar. Adapun yang ini, dia tidak melindungi dirinya dari air seninya. Adapun yang ini, dia biasa berjalan menyebarkan namimah (adu domba).'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, namun dengan redaksi yang sedikit berbeda. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tegas tentang adzab kubur dan pentingnya bersuci dari najis.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Adzab Kubur adalah Haq (Benar)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang adanya adzab kubur. Nabi ﷺ secara langsung melihat keadaan dua penghuni kubur yang sedang disiksa. Ini membantah pendapat yang mengingkari adzab kubur.

Kedua: Dosa yang Dianggap Remeh

Nabi ﷺ bersabda "وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ" (dan keduanya tidak disiksa karena perkara yang besar). Imam An-Nawawi menjelaskan makna ini: bukan berarti dosanya kecil di sisi Allah, tetapi menurut pandangan manusia, kedua dosa ini dianggap remeh. Padahal, akibatnya sangat besar. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil penjelasan bahwa dosa ini dianggap remeh oleh pelakunya, bukan oleh syariat.

Ketiga: Tidak Bersuci dari Air Seni

Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa tidak bersuci dari air seni mencakup beberapa hal:

  • Tidak beristinja' (membersihkan diri) setelah berkemih
  • Tidak berhati-hati agar air seni tidak mengenai pakaian atau badan
  • Meremehkan kesucian dari najis

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah melewati sebuah kebun dan mendengar suara dua orang yang disiksa. Ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya menegaskan bahwa bersuci dari air seni adalah kewajiban yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Keempat: Namimah (Adu Domba)

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mendefinisikan namimah sebagai menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa namimah termasuk dosa besar karena dapat memutus silaturahmi dan menimbulkan permusuhan.

Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi menyebutkan bahwa namimah adalah salah satu dosa yang paling berbahaya karena merusak masyarakat. Beliau menukil perkataan Al-Hasan al-Bashri: "Ketahuilah bahwa namimah adalah salah satu dari tiga perkara yang menghancurkan agama: namimah, hasad, dan buruk sangka."

Kelima: Perbedaan Riwayat

Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa Manshur meriwayatkan hadits ini dari Mujahid dari Ibnu Abbas tanpa menyebut Tawus. Namun riwayat Al-A'masy (yang menyebut Tawus) lebih shahih. Ini menunjukkan ketelitian Imam At-Tirmidzi dalam menilai riwayat. Imam Waki' bin al-Jarrah, guru dari para perawi hadits ini, menegaskan bahwa Al-A'masy lebih hafal sanad Ibrahim daripada Manshur.

Story Telling

Dikisahkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa suatu hari Nabi ﷺ berjalan melewati sebuah pemakaman. Beliau melihat dua kuburan yang baru saja digali. Tiba-tiba beliau bersabda kepada para sahabat yang bersamanya: "Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa."

Para sahabat terkejut dan bertanya-tanya, apa gerangan dosa mereka. Nabi ﷺ kemudian menjelaskan: "Yang satu tidak menjaga kebersihan diri dari air seninya. Yang lain suka mengadu domba."

Ibnu Abbas, yang mendengar langsung dari Nabi ﷺ, meriwayatkan hadits ini kepada murid-muridnya, termasuk Tawus bin Kaysan dan Mujahid bin Jabr. Keduanya adalah ulama besar Tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Mujahid, yang dikenal sebagai ahli tafsir, menyampaikan hadits ini dengan sanad yang jelas, dan Al-A'masy, seorang hafizh yang terkenal, mendengarnya langsung dari Mujahid.

Hikmahnya: betapa banyak orang meremehkan masalah bersuci dan lisan, padahal keduanya bisa menjadi sebab adzab kubur. Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata: "Barangsiapa yang meremehkan urusan bersuci, maka dia telah meremehkan agamanya."

Kesimpulan Praktis

  1. Bersucilah dengan benar setelah berkemih. Pastikan tidak ada sisa air seni yang mengenai badan atau pakaian. Gunakan air atau batu (istinja') dengan tuntas.
  2. Jaga lisan dari namimah. Jangan menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. Jika mendengar gosip, diamlah atau nasihati dengan baik.
  3. Jangan meremehkan dosa kecil. Dosa yang dianggap remeh oleh manusia bisa menjadi besar di sisi Allah jika dilakukan terus-menerus.
  4. Ingatlah adzab kubur. Hadits ini adalah peringatan nyata agar kita selalu introspeksi diri.
  5. Belajarlah dari para ulama. Mereka menjelaskan hadits ini dengan sangat rinci, seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnul Qayyim, agar kita tidak salah paham.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?