Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 517 tentang Boleh berbicara setelah turun mimbar sesuai kebutuhan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits yang Anda tanyakan (HR. Tirmidzi no. 517) pada dasarnya menceritakan bahwa Nabi ﷺ masih melayani kebutuhan orang dan berbicara dengan mereka setelah turun dari mimbar khotbah Jumat. Namun, perlu diketahui bahwa para ulama hadits, terutama Imam Al-Bukhari, menilai bahwa periwayatan hadits ini keliru (wahm) dari perawi Jarir bin Hazim. Yang lebih shahih adalah riwayat lain dari Anas bin Malik bahwa setelah iqamah dikumandangkan, ada seorang lelaki yang menarik tangan Nabi ﷺ dan terus berbicara hingga sebagian jamaah mengantuk. Pelajaran utamanya adalah Nabi ﷺ sangat lembut dan tidak tergesa-gesa dalam melayani kebutuhan umatnya, bahkan di saat-saat menjelang shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang lebih shahih sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang sama dari Imam At-Tirmidzi, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

قَالَ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَأَخَذَ رَجُلٌ بِيَدِ النَّبِيِّ ﷺ فَمَا زَالَ يُكَلِّمُهُ حَتَّى نَعَسَ بَعْضُ الْقَوْمِ

Artinya: "Anas berkata: 'Telah dikumandangkan iqamah shalat, lalu seorang lelaki menarik tangan Nabi ﷺ dan terus berbicara dengannya hingga sebagian orang mengantuk.'" (HR. At-Tirmidzi no. 517, dan ia menyebutkan bahwa ini yang shahih menurut Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari)

Hadits lain yang semakna dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِي

Artinya: "Apabila iqamah telah dikumandangkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihatku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama: Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya menyebutkan bahwa Muhammad bin Isma'il (yaitu Imam Al-Bukhari) menilai Jarir bin Hazim keliru dalam meriwayatkan hadits ini. Imam Al-Bukhari menjelaskan bahwa riwayat yang benar adalah dari Tsabit dari Anas tentang kisah orang yang menarik tangan Nabi ﷺ setelah iqamah, bukan tentang "berbicara setelah turun dari mimbar."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  1. Kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ: Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak orang yang ingin berbicara dengannya, meskipun waktunya sudah masuk shalat. Beliau ﷺ sangat menghormati kebutuhan orang lain dan tidak terburu-buru.
  2. Koreksi sanad oleh Imam Al-Bukhari: Imam Al-Bukhari dengan teliti menjelaskan bahwa Jarir bin Hazim — meskipun seorang yang jujur (shaduuq) — terkadang keliru dalam meriwayatkan hadits. Beliau keliru menyangka bahwa Tsabit meriwayatkan dari Anas tentang "Nabi berbicara setelah turun dari mimbar," padahal yang benar adalah kisah orang yang menarik tangan Nabi ﷺ setelah iqamah. Ini menunjukkan ketelitian para ulama dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ.
  3. Adab terhadap imam dan shalat berjamaah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berbicara dengan imam sebelum shalat dimulai, selama belum takbiratul ihram. Namun setelah imam memulai shalat, semua pembicaraan harus dihentikan.
  4. Hikmah dari kisah ini: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam melayani kebutuhan sesama muslim. Beliau ﷺ lebih memilih menunda shalat (yang waktunya masih longgar) daripada memutus pembicaraan orang yang sedang butuh bantuan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Suatu ketika iqamah shalat telah dikumandangkan, lalu seorang lelaki datang dan menarik tangan Nabi ﷺ. Orang itu terus berbicara dengan beliau tentang kebutuhannya. Nabi ﷺ dengan sabar mendengarkan hingga sebagian jamaah mulai mengantuk karena lamanya."

Anas bin Malik juga meriwayatkan dalam hadits lain: "Tidak pernah ada seorang pun yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sesuatu, kecuali beliau akan memenuhinya atau setidaknya mendoakannya. Dan beliau tidak pernah berkata 'tidak' kepada siapa pun yang meminta." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Kisah ini menunjukkan betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau adalah pemimpin umat, namun tidak pernah merasa terlalu sibuk untuk melayani rakyatnya yang paling sederhana sekalipun. Ini adalah pelajaran bagi para pemimpin, ulama, dan setiap muslim untuk bersikap rendah hati dan penuh perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikap lembut dan sabar dalam melayani kebutuhan orang lain, sebagaimana contoh Nabi ﷺ.
  2. Menghormati waktu shalat — meskipun Nabi ﷺ melayani orang tersebut, beliau tetap melaksanakan shalat berjamaah, dan para sahabat tetap menunggu dengan sabar.
  3. Teliti dalam menerima hadits — kita harus belajar dari para ulama seperti Imam Al-Bukhari yang sangat hati-hati dalam memeriksa sanad hadits, agar tidak salah dalam beramal.
  4. Tidak tergesa-gesa dalam urusan yang tidak mendesak, terutama ketika ada orang yang membutuhkan bantuan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?