Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu riwayat tentang shalat tasbih, namun perlu dipahami dengan hati-hati. Hadits dari Ummu Sulaim ini berisi anjuran untuk bertasbih, bertakbir, dan bertahmid sepuluh kali, kemudian berdoa. Adapun tentang "shalat tasbih" yang dikenal dengan tata cara tertentu (300 tasbih), para ulama berbeda pendapat tentang keabsahannya. Imam At-Tirmidzi sendiri menilai bahwa tidak ada satu pun riwayat tentang shalat tasbih yang benar-benar shahih. Namun, sebagian ulama seperti Abdullah bin al-Mubarak tetap membolehkan dan menyebutkan keutamaannya. Kita akan membahasnya secara rinci.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang dimaksud:
Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Tasbih, Bab "Ma Ja'a fi Shalat at-Tasbih" (Bab tentang Shalat Tasbih), nomor 481, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
"Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampunan." (QS. Al-Anfal [8]: 33)
Ayat ini menunjukkan keutamaan dzikir dan istighfar, yang merupakan bagian dari semangat hadits ini, yaitu memperbanyak dzikir kepada Allah dalam shalat.
Kaitan dengan Ulama:
Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya menyatakan: "Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ beberapa hadits tentang shalat tasbih, namun tidak ada satu pun yang shahih secara kuat." Ini adalah pernyataan penting dari seorang imam hadits.
Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in, termasuk yang meriwayatkan hadits ini dan juga termasuk yang membolehkan shalat tasbih serta menyebutkan keutamaannya. Beliau juga menjelaskan tata caranya secara rinci sebagaimana dalam riwayat ini.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat tasbih. Mari kita lihat beberapa pendapat dari ulama yang tercantum dalam daftar rujukan:
1. Pendapat yang melemahkan hadits shalat tasbih:
Imam At-Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits-hadits tentang shalat tasbih menyatakan: "Tidak shahih dari hadits-hadits itu sesuatu yang kuat." Ini menunjukkan kehati-hatian beliau.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, seorang ulama hadits abad ini, juga melemahkan hadits-hadits tentang shalat tasbih secara khusus. Beliau menyatakan bahwa tidak ada satu pun riwayat tentang shalat tasbih yang sampai derajat shahih.
2. Pendapat yang membolehkan:
Abdullah bin al-Mubarak dan beberapa ulama lain melihat bolehnya shalat tasbih dan menyebutkan keutamaannya. Beliau bahkan menjelaskan tata caranya secara detail dalam riwayat ini.
3. Analisis terhadap hadits Ummu Sulaim:
Hadits Ummu Sulaim ini sebenarnya tidak secara khusus berbicara tentang "shalat tasbih" dengan tata cara 300 tasbih. Hadits ini lebih sederhana: Nabi ﷺ mengajarkan Ummu Sulaim untuk bertakbir 10 kali, bertasbih 10 kali, dan bertahmid 10 kali dalam shalatnya, kemudian berdoa.
Ini menunjukkan bahwa yang terpenting dalam shalat adalah kehadiran hati dan dzikir kepada Allah, bukan sekadar gerakan dan hitungan. Bahkan dengan dzikir yang sederhana pun, seorang hamba bisa dekat dengan Allah.
4. Pelajaran dari perbedaan ini:
Yang bisa kita ambil dari perbedaan ini adalah:
- Jika seseorang ingin mengamalkan shalat tasbih, hendaknya ia tahu bahwa para ulama berbeda pendapat. Sebagian membolehkan, sebagian melemahkan.
- Yang lebih utama adalah berpegang pada yang disepakati, yaitu dzikir-dzikir yang shahih dalam shalat seperti tasbih, tahmid, takbir, dan doa-doa ma'tsur.
- Jangan sampai kita meninggalkan sunnah-sunnah yang jelas hanya karena sibuk dengan amalan yang diperselisihkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha adalah wanita yang sangat bersemangat dalam kebaikan. Suatu hari ia datang kepada Nabi ﷺ dan meminta diajarkan kalimat-kalimat yang bisa ia ucapkan dalam shalatnya. Nabi ﷺ tidak mengajarinya doa yang panjang, tetapi mengajarinya dzikir yang sederhana: takbir, tasbih, dan tahmid masing-masing sepuluh kali, kemudian berdoa.
Ini menunjukkan bahwa Islam itu mudah. Nabi ﷺ tidak membebani Ummu Sulaim dengan amalan yang berat, tetapi mengajarkan dzikir yang ringan namun besar pahalanya. Yang terpenting adalah konsistensi dan keikhlasan, bukan banyaknya hitungan.
Dari sini kita belajar: jangan pernah meremehkan dzikir yang sederhana. Karena di sisi Allah, amalan yang sedikit namun dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah bisa lebih dicintai daripada amalan yang banyak namun dilakukan tanpa kehadiran hati.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak dzikir dalam shalat — baik tasbih, tahmid, takbir, maupun doa-doa lainnya, karena ini adalah inti dari hadits Ummu Sulaim.
- Jangan mudah meninggalkan shalat sunnah yang jelas hanya karena sibuk dengan amalan yang diperselisihkan. Shalat-shalat sunnah yang shahih seperti rawatib, tahajud, dhuha, dan witir sudah cukup sebagai bekal.
- Jika ingin mengamalkan shalat tasbih, pahami bahwa para ulama berbeda pendapat. Sebaiknya pelajari dari guru yang terpercaya dan jangan menjadikannya sebagai amalan yang dipaksakan kepada orang lain.
- Yang terpenting adalah kualitas shalat, bukan sekadar kuantitas. Shalat yang khusyuk dengan dzikir yang sederhana lebih baik daripada shalat yang panjang namun lalai.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.