Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3793 tentang Perintah Allah membaca Al-Qur'an kepada Ubay

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Ubayy bin Ka'b رضي الله عنه, karena Allah sendiri memerintahkan Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an kepadanya. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bahwa agama yang benar di sisi Allah adalah Al-Hanafiyyah Al-Muslimah (Islam yang lurus), bukan Yahudi dan bukan Nasrani. Selain itu, hadits ini mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah puas dengan harta, dan bahwa pintu taubat selalu terbuka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Firman Allah ﷻ:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

QS. Ali 'Imran [3]: 19

Terjemahan: "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam."

Firman Allah ﷻ:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

QS. Ali 'Imran [3]: 85

Terjemahan: "Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Keutamaan Rasulullah ﷺ, dari sahabat Ubayy bin Ka'b رضي الله عنه. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan." Hadits ini juga diriwayatkan melalui jalur lain, di antaranya oleh Abdullah bin Abdurrahman bin Abza dari ayahnya dari Ubayy bin Ka'b, dan oleh Qatadah dari Anas رضي الله عنه.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (penulis kitab) menilai hadits ini hasan dan menyebutkan jalur-jalur periwayatannya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya menjelaskan bahwa perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an kepada Ubayy menunjukkan keutamaan ilmu dan pengajaran Al-Qur'an.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan keutamaan para sahabat yang ahli dalam Al-Qur'an, dan Ubayy bin Ka'b adalah salah satu tokoh utamanya.

Penjelasan Rinci

1. Keutamaan Ubayy bin Ka'b رضي الله عنه

Hadits ini menunjukkan kedudukan mulia Ubayy bin Ka'b di sisi Allah dan Rasul-Nya. Allah ﷻ sendiri yang memerintahkan Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an kepadanya. Ini bukan sekadar penghormatan biasa, tetapi menunjukkan bahwa Ubayy adalah seorang yang Allah kehendaki mendapatkan ilmu langsung dari lisan Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa perintah "أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ" (untuk membacakan kepadamu) mengandung makna bahwa Nabi ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan dan mengajarkan Al-Qur'an secara khusus kepada Ubayy. Ini menunjukkan keutamaan Ubayy dalam ilmu Al-Qur'an dan kedudukannya sebagai salah satu sahabat yang paling utama dalam bidang tersebut.

Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa Ubayy bin Ka'b adalah salah satu sahabat yang mengumpulkan Al-Qur'an pada masa Nabi ﷺ, dan beliau adalah imam dalam qira'ah.

2. Makna "Al-Hanafiyyah Al-Muslimah"

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ membacakan: "إِنَّ ذَاتَ الدِّينِ عِنْدَ اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ الْمُسْلِمَةُ لاَ الْيَهُودِيَّةُ وَلاَ النَّصْرَانِيَّةُ" — "Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Al-Hanafiyyah yang Muslim, bukan Yahudi dan bukan Nasrani."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Hanafiyyah adalah millah (jalan) Nabi Ibrahim عليه السلام, yaitu tauhid yang murni dan menjauhi kesyirikan. Sedangkan "Al-Muslimah" berarti tunduk dan patuh kepada Allah ﷻ. Jadi, agama yang benar adalah tauhid yang lurus dan penyerahan diri kepada Allah, bukan agama Yahudi atau Nasrani yang telah diubah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa hanya Islam yang diterima di sisi Allah, dan bahwa Yahudi serta Nasrani bukanlah jalan yang benar.

3. "Barangsiapa berbuat baik, maka tidak akan ditolak darinya"

Kalimat "مَنْ يَعْمَلْ خَيْرًا فَلَنْ يُكْفَرَهُ" berarti barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka kebaikannya tidak akan ditolak atau dihapus. Ini menunjukkan keadilan Allah ﷻ yang tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan seseorang, sekecil apapun itu, selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

4. "Tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah"

Nabi ﷺ membacakan: "وَلَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا..." — "Dan jika anak Adam memiliki lembah penuh harta, ia akan mencari lembah kedua..."

Ini adalah peringatan tentang sifat tamak manusia terhadap harta. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya cenderung tidak pernah puas dengan harta dunia. Namun, yang memenuhi perut anak Adam hanyalah tanah (yakni kematian), dan Allah ﷻ menerima taubat orang yang bertaubat.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan berlebihan dalam mencintai dunia dan anjuran untuk zuhud serta qana'ah (merasa cukup).

5. Perbedaan pendapat di antara ulama

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang status kalimat-kalimat tambahan dalam hadits ini (seperti "Al-Hanafiyyah Al-Muslimah" dan "law anna libni Adam..."). Sebagian menilainya sebagai bagian dari bacaan Nabi ﷺ yang beliau sampaikan kepada Ubayy, dan sebagian lain menilainya sebagai penjelasan Nabi ﷺ sendiri, bukan bagian dari ayat Al-Qur'an.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kalimat-kalimat tersebut bukanlah bagian dari Al-Qur'an yang dibaca, melainkan penjelasan atau bacaan Nabi ﷺ yang beliau sampaikan sebagai tafsir atau doa. Yang paling kuat adalah bahwa kalimat-kalimat itu adalah bagian dari bacaan Nabi ﷺ yang beliau sampaikan kepada Ubayy sebagai pengajaran, bukan sebagai ayat Al-Qur'an yang diturunkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ubayy bin Ka'b رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling tekun dalam mempelajari Al-Qur'an. Ketika Nabi ﷺ memberitahunya bahwa Allah memerintahkan beliau untuk membacakan Al-Qur'an kepadanya, Ubayy merasa sangat terharu dan bertanya: "Ya Rasulullah, apakah Allah menyebut namaku?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya, Allah menyebut namamu."

Ubayy bin Ka'b kemudian menangis karena kebahagiaan dan rasa syukur. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Imam an-Nawawi menyebutkan kisah ini dalam Syarah Shahih Muslim sebagai bukti keutamaan ahli Al-Qur'an.

Hikmahnya: Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Al-Qur'an dengan belajar dan mengajarkannya, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan menyebut namanya di tempat yang tinggi.

Kesimpulan Praktis

  1. Belajarlah Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh — karena keutamaan ahli Al-Qur'an sangat besar di sisi Allah, sebagaimana ditunjukkan kepada Ubayy bin Ka'b.
  2. Agama yang benar adalah Islam yang lurus (Al-Hanafiyyah Al-Muslimah) — yaitu tauhid yang murni, bukan Yahudi, bukan Nasrani, dan bukan pula aliran-aliran yang menyimpang.
  3. Janganlah tamak terhadap harta — karena manusia tidak akan pernah puas dengan dunia. Yang memenuhi perut anak Adam hanyalah tanah (kematian). Hendaklah kita bersikap qana'ah dan zuhud.
  4. Pintu taubat selalu terbuka — "وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ" — Allah menerima taubat orang yang bertaubat, selama nyawa masih di badan.
  5. Hendaklah kita mengajarkan Al-Qur'an kepada orang lain — karena Nabi ﷺ sendiri diperintahkan untuk membacakan Al-Qur'an kepada Ubayy, menunjukkan bahwa mengajarkan Al-Qur'an adalah amal yang mulia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?