Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3747 tentang Sepuluh sahabat dijamin masuk surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang sepuluh sahabat mulia yang dijamin masuk surga. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu 'anhum. Hadits ini menunjukkan keutamaan besar mereka dan menjadi dalil bahwa mereka termasuk penghuni surga, sebagaimana disabdakan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Keutamaan Rasulullah ﷺ, Bab Keutamaan Abdurrahman bin Auf, no. 3747. Dalam riwayat lain, hadits ini juga diriwayatkan dari Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu, dan Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa riwayat Sa'id bin Zaid lebih shahih.

Dalil dari Al-Qur'an yang terkait dengan jaminan surga bagi para sahabat yang mulia, Allah ﷻ berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah [9]: 100)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh sahabat yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam, dan yang paling utama di antara mereka adalah para Khulafa'ur Rasyidin dan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai salah satu dalil tentang keutamaan para sahabat secara umum, dan secara khusus tentang sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga (al-'asyarah al-mubasyarun bil jannah).

Imam At-Tirmidzi rahimahullah setelah meriwayatkan hadits ini menyebutkan bahwa ada riwayat lain yang lebih shahih, yaitu dari Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu. Ini menunjukkan ketelitian beliau dalam menilai derajat hadits. Para ulama hadits seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadits serupa dari jalur Sa'id bin Zaid, yang memperkuat kedudukan hadits ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa berita tentang sepuluh sahabat ini adalah berita ghaib yang disampaikan oleh Nabi ﷺ berdasarkan wahyu dari Allah ﷻ. Ini bukan sekadar perkiraan atau harapan, melainkan kabar pasti dari Nabi yang jujur dan terpercaya. Maka wajib bagi kita untuk mengimani bahwa mereka semua di surga, dan ini merupakan dalil keutamaan mereka yang agung.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan kedudukan tinggi para sahabat tersebut, dan bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi. Mencintai mereka adalah bagian dari iman, dan membenci mereka adalah tanda kemunafikan. Beliau sering mengingatkan agar kita tidak terjatuh pada sikap merendahkan atau mencela para sahabat, karena Allah ﷻ telah ridha kepada mereka.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits tentang sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga memiliki banyak jalur periwayatan yang saling menguatkan, dan para ulama menerimanya sebagai hadits yang shahih. Beliau juga menjelaskan bahwa penyebutan nama-nama mereka secara berurutan menunjukkan keutamaan mereka sesuai urutan tersebut, meskipun yang paling utama adalah Abu Bakar kemudian Umar.

Adapun hikmah dari hadits ini, Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat pelajaran tentang keadilan Nabi ﷺ dalam memberikan kabar gembira, dan juga dorongan bagi umat untuk meneladani mereka dalam keimanan, kejujuran, pengorbanan, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — berada di Kufah, ada seorang pria yang mencela beliau. Maka Sa'id bin Zaid berkata dengan tegas namun penuh hikmah:

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Sepuluh orang dari Quraisy di surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Sa'd di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.'" Lalu beliau berkata: "Jika engkau mau, aku akan sebutkan yang kesepuluh." Para hadirin bertanya: "Siapakah dia?" Sa'id bin Zaid menjawab: "Dia adalah Sa'id bin Zaid." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Kisah ini menunjukkan keteguhan para sahabat dalam membela kehormatan saudara-saudara mereka, dan juga keberanian mereka dalam menyampaikan kebenaran meskipun ada yang mencela. Hikmahnya: kita harus menjaga lisan dari mencela para sahabat, karena mereka adalah orang-orang pilihan yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengimani kabar gembira ini — bahwa sepuluh sahabat tersebut dijamin masuk surga, sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ.
  2. Mencintai para sahabat — karena mencintai mereka adalah tanda keimanan, dan membenci mereka adalah tanda kemunafikan.
  3. Meneladani akhlak mereka — dalam kejujuran, pengorbanan, keikhlasan, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  4. Menjaga lisan — tidak mencela atau merendahkan para sahabat, karena mereka telah diridhai Allah ﷻ.
  5. Bersyukur atas nikmat Islam — karena kita termasuk umat yang diajarkan untuk mencintai para sahabat Nabi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.