Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil keutamaan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Di dalamnya, Utsman mengingatkan para pengepungnya tentang empat jasa besarnya di masa Rasulullah ﷺ: membeli sumur Raumah untuk umat, memperluas Masjid Nabawi, menyiapkan pasukan Al-'Usrah (Perang Tabuk), dan menjadi saksi di atas gunung Tsabir bersama Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Hadits ini menunjukkan bagaimana Utsman membela diri dengan fakta-fakta pengorbanannya, dan para sahabat yang hadir pun membenarkannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Manaqib, Bab Keutamaan Utsman bin Affan RA, nomor 3703. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan." Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain tentang Utsman.
Teks hadits yang paling inti (bagian akhir):
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "اسْكُنْ ثَبِيرُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ"
Artinya: "Tenanglah wahai Tsabir, karena di atasmu ada seorang Nabi, seorang Siddiq, dan dua orang syahid."
Kaitan dengan ulama: Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) menilai hadits ini hasan. Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam An-Nubala saat membahas biografi Utsman bin Affan, sebagai bagian dari manaqib beliau.
Penjelasan Rinci
Hadits ini terjadi saat Utsman bin Affan dikepung di rumahnya oleh para pemberontak. Beliau muncul dan meminta dua orang yang menghasut mereka. Kemudian beliau bersumpah kepada mereka dengan nama Allah dan Islam, meminta kesaksian mereka atas empat perkara yang beliau lakukan di masa Nabi ﷺ:
- Membeli sumur Raumah. Saat Nabi ﷺ tiba di Madinah, tidak ada air tawar yang layak kecuali sumur Raumah yang dimiliki seorang Yahudi. Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang membeli sumur Raumah lalu menjadikan embernya sejajar dengan ember kaum Muslimin, maka baginya kebaikan di Surga." Maka Utsman membelinya dari hartanya sendiri. Kini, orang-orang yang mengepungnya justru mencegahnya minum dari sumur tersebut.
- Memperluas Masjid Nabawi. Ketika masjid terasa sempit, Nabi ﷺ menawarkan siapa yang mau membeli tanah keluarga fulan untuk perluasan masjid. Utsman membelinya dengan hartanya sendiri. Namun kini mereka menghalanginya shalat dua rakaat di dalam masjid.
- Menyiapkan pasukan Al-'Usrah (Perang Tabuk). Ini merujuk pada firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 117 tentang "sa'atil 'usrah" (waktu kesulitan). Utsman menyiapkan pasukan ini dari hartanya sendiri. Para ulama menyebutkan bahwa Utsman menyumbang 950 unta dan 50 kuda, atau bahkan 1000 dinar, sehingga Nabi ﷺ bersabda: "Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini."
- Kejadian di gunung Tsabir. Saat Nabi ﷺ berada di atas gunung Tsabir di Makkah bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, gunung itu bergetar. Nabi ﷺ menginjaknya dan bersabda, "Tenanglah wahai Tsabir, karena di atasmu ada seorang Nabi, seorang Siddiq, dan dua orang syahid." Maka Utsman berkata, "Allahu Akbar! Mereka bersaksi untukku, demi Rabb Ka'bah, bahwa aku adalah syahid" — tiga kali.
Para pengepung itu menjawab, "Ya Allah, benar" untuk semua perkara tersebut. Maka Utsman bersumpah bahwa mereka telah mengakui kebenaran pengorbanannya.
Catatan penting: Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Utsman bin Affan akhirnya wafat sebagai syahid, sesuai dengan kabar Nabi ﷺ bahwa beliau termasuk "dua syahid" tersebut. Ini menunjukkan kebenaran kenabian dan kemuliaan Utsman.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang sumur Raumah. Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, kaum Muslimin kesulitan mendapatkan air bersih. Satu-satunya sumur dengan air tawar adalah sumur Raumah milik seorang Yahudi yang menjual airnya dengan harga tinggi. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang membeli sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk kaum Muslimin, maka baginya Surga."
Utsman bin Affan, yang dikenal sebagai saudagar kaya, segera menemui pemilik sumur itu. Ia menawarkan untuk membeli setengah bagian sumur. Pemiliknya setuju. Kemudian Utsman datang lagi, membeli setengah bagian yang tersisa. Ia pun mewakafkan seluruh sumur itu untuk kaum Muslimin. Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang membayar untuk mengambil air dari sumur Raumah.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Utsman membeli sumur tersebut dengan harga yang sangat mahal, dan ini menjadi salah satu amal jariyahnya yang terus mengalir. Hingga hari ini, sumur Raumah masih ada dan menjadi bukti nyata pengorbanan seorang sahabat yang mencintai Rasulullah ﷺ dan umatnya.
Kesimpulan Praktis
- Belajar dari keikhlasan Utsman: Berinfak di jalan Allah dengan harta yang paling dicintai adalah amal yang agung. Utsman membeli sumur dan tanah masjid "dari harta yang paling berharga" (min shulbi maali), bukan dari sisa-sisa hartanya.
- Menjaga lisan dan tidak tergesa menghakimi: Utsman tidak melawan para pengepung dengan kekerasan, tetapi dengan mengingatkan mereka akan jasa-jasanya. Ini pelajaran tentang adab dalam membela diri: dengan fakta dan kejujuran, bukan dengan emosi.
- Kematian yang mulia adalah bagian dari takdir: Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa Utsman termasuk syahid. Ini mengajarkan kita untuk ridha dengan takdir Allah dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
- Meneladani semangat berkorban: Utsman tidak menunggu diminta, tetapi berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga kita diberi taufik untuk meneladani akhlak para sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.