Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan sebagian sifat fisik (syamail) Nabi ﷺ: mulutnya lebar (tidak kecil), matanya panjang belahannya, dan tumitnya sedikit daging. Ini bukan celaan, melainkan gambaran keindahan dan kekuatan tubuh beliau yang disebutkan para sahabat sebagai bentuk kecintaan dan pengenalan. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Manaqib, Bab Sifat Nabi ﷺ (no. 3647), dari sahabat Jabir bin Samurah رضي الله عنه, dan beliau menilainya hasan shahih. Perawi lain: Imam Muslim juga meriwayatkan makna serupa dalam Shahih Muslim (Kitab al-Fadha'il) dari Jabir bin Samurah.
Adapun ayat yang menjadi landasan umum untuk mengenal dan mencintai Nabi ﷺ:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan: "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Penjelasan Rinci
Para ulama di daftar kita memahami hadits-hadits syamail (sifat fisik Nabi ﷺ) sebagai bagian dari pengenalan yang menumbuhkan kecintaan, bukan sekadar deskripsi. Imam at-Tirmidzi sendiri menyusun bab khusus tentang sifat Nabi ﷺ, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih — menunjukkan perhatian beliau pada validitas riwayat.
Penjelasan istilah dalam hadits:
- ضَلِيعَ الْفَمِ (Dali' al-Fam): dijelaskan Simak bin Harb sebagai "mulut yang lebar". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebut bahwa lebar mulut di sini dipahami sebagai tanda keindahan dan kefasihan, bukan celaan.
- أَشْكَلَ الْعَيْنَيْنِ (Asykal al-'Ainain): dijelaskan sebagai mata yang panjang belahannya (lebar dan indah). Ini makna yang dinukil dari Simak, dan dipahami sebagai keindahan pandangan.
- مَنْهُوشَ الْعَقِبِ (Manhus al-'Aqib): tumit yang sedikit dagingnya — dipahami sebagai bentuk kekuatan dan kelincahan, bukan kekurangan.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyebutan sifat-sifat ini oleh para sahabat adalah bentuk pengenalan dan kecintaan, dan bahwa semua sifat Nabi ﷺ adalah sifat yang terpuji. Ibnu Katsir dalam kitab-kitab sejarahnya juga menukil deskripsi serupa dari para sahabat.
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama daftar tentang makna lafaz-lafaz ini; yang ada hanyalah penjelasan bahasa dari perawi (Simak) yang kemudian diikuti para ulama.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Jabir bin Samurah رضي الله عنه, seorang sahabat yang lama menyertai Nabi ﷺ, memperhatikan wajah dan tubuh beliau dengan penuh kecintaan. Ketika ia menyebut "mulut beliau lebar", "mata beliau panjang belahannya", dan "tumit beliau sedikit dagingnya", itu bukan kritik — melainkan cara seorang pecinta mengenang kekasihnya. Para sahabat lain seperti Anas bin Malik dan Ali bin Abi Thalib juga meriwayatkan deskripsi serupa. Hikmahnya: mengenal Nabi ﷺ secara fisik mendorong kita mengenal akhlaknya, lalu meneladaninya. (Sumber: riwayat-riwayat syamail dalam at-Tirmidzi dan Muslim secara global.)
Kesimpulan Praktis
- Pahami hadits syamail sebagai pengenalan yang menumbuhkan cinta, bukan bahan perdebatan.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ lebih dari sekadar mengetahui bentuk fisiknya.
- Pelajari hadits melalui ulama terpercaya dan kitab-kitab shahih.
- Jangan berlebihan (ghuluw) dalam mengagungkan fisik maupun pribadi Nabi ﷺ di luar batas syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.