Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan mukjizat Nabi ﷺ berupa keberkahan makanan yang sedikit, yaitu beberapa roti gandum milik Umm Sulaim yang cukup untuk memberi makan sekitar tujuh puluh atau delapan puluh orang sahabat hingga kenyang. Hadits ini juga mengajarkan adab tawakal, husnuzhan kepada Allah, kedermawanan, dan keyakinan bahwa Allah akan mencukupkan rezeki orang yang berserah diri kepada-Nya. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ma'idah [5]: 114
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: 'Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang kemudian, dan menjadi tanda (kekuasaan)-Mu, dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa memberi rezeki dan menurunkan keberkahan dari langit, sebagaimana Nabi ﷺ diberi keberkahan pada makanan yang sedikit.
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Kitab al-Manāqib, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan dinilai hasan shahih oleh at-Tirmidzi. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari jalur Anas bin Malik dengan lafaz yang berdekatan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil mukjizat Nabi ﷺ yang nyata dan termasuk bab keberkahan (barakah) pada makanan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada saat perang Khandaq (Ahzab), dan menunjukkan keutamaan Umm Sulaim serta keluarganya.
- Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah ini sebagai salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang mutawatir maknanya.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menggambarkan peristiwa ketika Abu Talhah radhiyallahu 'anhu mendengar suara Rasulullah ﷺ yang lemah karena lapar. Ia lalu memberitahu istrinya, Umm Sulaim (ibu dari Anas bin Malik), dan meminta sesuatu untuk diberikan kepada Nabi ﷺ. Umm Sulaim menyiapkan beberapa roti gandum, membungkusnya dengan khimar (kain penutup kepala) miliknya, lalu mengirim Anas kecil untuk mengantarkannya kepada Nabi ﷺ.
Ketika Nabi ﷺ menerima makanan itu, beliau justru mengajak seluruh orang yang ada di masjid untuk ikut makan. Abu Talhah terkejut karena makanan yang ada sangat sedikit, namun Umm Sulaim berkata dengan penuh tawakal: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Lalu Nabi ﷺ memerintahkan agar roti dipotong-potong dan Umm Sulaim menuangkan mentega ke atasnya. Nabi ﷺ mendoakan makanan itu, lalu memanggil sepuluh orang, mereka makan hingga kenyang, lalu keluar. Demikian seterusnya hingga tujuh puluh atau delapan puluh orang semuanya makan hingga kenyang, sedangkan makanan masih tersisa.
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa peristiwa ini termasuk mukjizat Nabi ﷺ yang jelas (mu'jizah hissiyyah), di mana makanan yang sedikit dapat mencukupi banyak orang. Beliau juga menyebutkan bahwa ini terjadi pada masa perang Khandaq, saat kaum muslimin sedang dalam kesulitan pangan.
- Imam an-Nawawi menekankan pentingnya tawakal dan husnuzhan kepada Allah, sebagaimana ucapan Umm Sulaim: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan berbagi makanan dan mengutamakan tamu meskipun dalam keadaan sempit.
- Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah salah satu bukti kenabian Muhammad ﷺ yang tidak diragukan lagi, dan termasuk karomah bagi Umm Sulaim serta keluarganya.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa keberkahan adalah perkara yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan tidak terikat pada sebab-sebab materi. Ini sejalan dengan ayat QS. Al-Baqarah [2]: 261 tentang pelipatgandaan pahala dan rezeki.
- Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih dan menyebutkan bahwa ia menunjukkan keutamaan Anas bin Malik yang sejak kecil sudah dipercaya membawa amanah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang jumlah pasti orang yang makan (tujuh puluh atau delapan puluh). Namun perbedaan ini tidak mempengaruhi inti pelajaran, yaitu mukjizat keberkahan makanan. Yang paling kuat adalah riwayat yang menyebutkan tujuh puluh atau delapan puluh sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, dan ini tidak bertentangan.
Story Telling
Kisah Umm Sulaim dan Keberkahan Makanan
Umm Sulaim radhiyallahu 'anha adalah salah satu wanita mulia dari kalangan Anshar. Ia adalah ibu dari Anas bin Malik, pelayan Nabi ﷺ yang setia. Suatu hari, ketika kaum muslimin sedang dalam kesulitan, Abu Talhah mendengar suara Nabi ﷺ yang lemah karena lapar. Ia pun pulang dan bertanya kepada istrinya.
Umm Sulaim, dengan penuh keimanan, hanya memiliki beberapa roti gandum. Ia membungkusnya dengan khimar miliknya, lalu mengirim Anas kecil untuk mengantarkannya kepada Nabi ﷺ. Betapa terkejutnya Abu Talhah ketika melihat Nabi ﷺ datang bersama banyak orang, sedangkan makanan yang ada hanya sedikit.
Namun Umm Sulaim berkata dengan tenang: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Kalimat ini bukan sekadar ucapan, tetapi bukti tawakal yang mendalam kepada Allah.
Nabi ﷺ kemudian memerintahkan agar roti dipotong-potong, dan Umm Sulaim menuangkan mentega ke atasnya. Nabi ﷺ mendoakan makanan itu, lalu memanggil sepuluh orang, mereka makan hingga kenyang. Kemudian sepuluh lagi, dan sepuluh lagi, hingga tujuh puluh atau delapan puluh orang semuanya makan hingga kenyang. Makanan itu tidak habis, bahkan masih tersisa.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa keberkahan datang dari Allah, bukan dari banyaknya harta. Tawakal dan husnuzhan kepada Allah adalah kunci terbukanya pintu-pintu rezeki yang tidak terduga. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari jalur Anas bin Malik, peristiwa ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata.
Kesimpulan Praktis
- Bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan, terutama saat kesulitan rezeki, sebagaimana Umm Sulaim berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."
- Berbagi makanan dan mengutamakan tamu, meskipun dalam keadaan sempit, adalah akhlak Nabi ﷺ dan para sahabat.
- Yakinlah bahwa keberkahan datang dari Allah, bukan dari banyaknya harta. Sedikit yang diberkahi lebih bermanfaat daripada banyak yang tidak diberkahi.
- Meneladani keutamaan Umm Sulaim dalam mendidik anak (Anas bin Malik) untuk dekat dengan Nabi ﷺ dan berkhidmat kepada agama.
- Mukjizat Nabi ﷺ adalah bukti kebenaran kenabian beliau, dan hendaknya menambah keimanan kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.