Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3535 tentang Malaikat menurunkan sayap untuk pencari ilmu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengandung tiga pelajaran utama: (1) Keutamaan mencari ilmu dan penghormatan malaikat kepada penuntut ilmu, (2) Rukhshah (keringanan) mengusap khuf (sepatu) selama tiga hari bagi musafir, dan (3) Kabar gembira bahwa seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya di akhirat, serta pintu taubat yang luas di arah barat (Syam) yang terbuka lebar hingga hari kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa, Bab Keutamaan Taubat dan Istighfar, nomor 3535. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

Ayat ini, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, menunjukkan luasnya rahmat dan pintu taubat bagi seluruh hamba, selaras dengan hadits tentang pintu taubat di barat yang tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari sana.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah hadits yang sangat kaya akan faedah. Mari kita bedakan menjadi beberapa poin utama sesuai penjelasan para ulama dari daftar rujukan:

1. Keutamaan Mencari Ilmu:

Safwan bin 'Assal radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Nabi, menyambut Zirr bin Hubaisy dengan menyebutkan keutamaan mencari ilmu. Beliau berkata, "Sesungguhnya para malaikat menurunkan sayap-sayapnya untuk pencari ilmu, karena senang dengan apa yang dicari." Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan penuntut ilmu di sisi Allah. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari seringkali mengutip hadits-hadits semisal untuk menjelaskan keutamaan ini. Para malaikat merendahkan sayapnya sebagai bentuk penghormatan dan keridhaan terhadap amal mulia ini.

2. Rukhshah Mengusap Khuf:

Pertanyaan Zirr tentang mengusap khuf dijawab oleh Safwan dengan menyebutkan perintah Nabi ﷺ. Untuk musafir, masa mengusap khuf adalah tiga hari tiga malam, dan untuk yang mukim adalah sehari semalam. Ini adalah keringanan yang besar. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab fiqih mereka berpegang pada hadits ini dan hadits-hadits shahih lainnya yang membatasi masa usapan. Hadas besar (junub) mewajibkan melepas khuf untuk mandi, namun hadas kecil (buang air besar, kecil, dan tidur) tidak mewajibkan melepasnya.

3. Bersama dengan yang Dicintai:

Dialog dengan seorang Badui yang mencintai suatu kaum namun belum bisa menyamai amal mereka dijawab oleh Nabi ﷺ dengan sabda yang sangat agung: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya pada hari kiamat." Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar gembira bagi setiap muslim yang mencintai kebaikan, para nabi, dan orang-orang shalih. Cinta yang benar akan mendorong seseorang untuk meniru mereka, dan jika belum mampu, maka cinta itu sendiri adalah sebab untuk dikumpulkan bersama mereka. Ini adalah rahmat yang sangat besar.

4. Pintu Taubat yang Luas:

Bagian akhir hadits menyebutkan tentang sebuah pintu di arah barat (menuju Syam) yang lebarnya sangat luas. Sufyan bin 'Uyainah (salah satu perawi) menjelaskan bahwa pintu itu adalah pintu taubat yang Allah ciptakan sejak awal penciptaan langit dan bumi. Pintu ini terbuka lebar dan tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari barat sebagai tanda besar hari kiamat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa ini adalah salah satu pintu taubat yang khusus, selain taubat nasuha yang diterima kapan saja selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Ini menunjukkan betapa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang ingin kembali.

Story Telling

Kisah dalam hadits ini sendiri adalah sebuah story telling yang indah. Seorang Badui yang lugu dan mungkin kurang adab memanggil Nabi ﷺ dengan suara keras. Para sahabat menegurnya, namun Nabi ﷺ menjawab dengan lembut dan suara yang mirip. Kemudian Badui itu bertanya tentang hukum orang yang mencintai suatu kaum tetapi belum bisa beramal seperti mereka. Ini adalah pertanyaan yang lahir dari kerinduan dan kejujuran hati. Jawaban Nabi ﷺ, "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya," menjadi penghibur dan penyemangat bagi setiap muslim yang berusaha namun merasa kurang. Dari sini kita belajar bahwa adab yang baik kepada Nabi ﷺ dan para ulama adalah penting, namun kasih sayang dan hikmah dalam menjawab pertanyaan adalah kunci dakwah yang efektif.

Kesimpulan Praktis

  1. Semangatlah dalam menuntut ilmu syar'i, karena malaikat mendoakan dan menghormati penuntut ilmu.
  2. Ambillah keringanan (rukhshah) dalam ibadah yang telah disyariatkan, seperti mengusap khuf saat safar, karena itu adalah bentuk kemudahan dari Allah.
  3. Tanamkan cinta kepada para nabi, sahabat, dan orang shalih dalam hati. Cinta ini akan menjadi sebab kita dikumpulkan bersama mereka di akhirat, meskipun amal kita belum setara.
  4. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Pintu taubat selalu terbuka lebar. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya sebelum datang hari di mana taubat tidak lagi diterima.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.