Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3493 tentang Doa sujud berlindung dari murka Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah doa agung yang dibaca Nabi ﷺ ketika sujud, berisi pengagungan dan ketundukan total kepada Allah. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa pujian kepada Allah tidak akan pernah bisa dihitung oleh manusia, dan bahwa kita berlindung kepada keridhaan-Nya dari kemarahan-Nya, serta kepada ampunan-Nya dari siksa-Nya. Doa ini menunjukkan puncak tawadhu dan pengagungan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Doa, dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan beliau menghukuminya sebagai hadits hasan. Hadits ini juga diriwayatkan melalui jalur lain dari 'Aisyah, dan Imam At-Tirmidzi menyebutkan tambahan lafazh: "وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ" (aku berlindung kepada-Mu dari-Mu).

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema doa dan ketundukan ini:

QS. Al-Baqarah [2]: 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

QS. Al-A'raf [7]: 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Terjemahan: "Dan Allah memiliki nama-nama yang terbaik (Asmaul Husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini termasuk doa yang paling agung karena mengandung pengagungan (tsana') kepada Allah dan pengakuan kelemahan hamba. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas keutamaan doa ini dalam konteks sujud. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "laa uhshi tsanaa'an 'alaika" bahwa manusia tidak mampu menghitung dan membatasi pujian yang layak bagi Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran mendalam yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Keutamaan sujud sebagai waktu doa. 'Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa beliau mencari Nabi ﷺ di malam hari dan mendapati beliau sedang sujud. Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa sujud adalah keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya, sebagaimana hadits lain yang menyebutkan "sedekat-dekat hamba kepada Rabb-nya adalah ketika ia sujud." Karena itu, doa dalam sujud sangat dianjurkan.

Kedua: Makna "أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ" (Aku berlindung kepada keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu). Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Bada'i al-Fawa'id menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawassul (perantara) kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya. Seorang hamba berlindung kepada sifat ridha Allah dari sifat murka-Nya. Ini menunjukkan bahwa ridha Allah adalah tujuan tertinggi, dan murka-Nya adalah hal yang paling ditakuti.

Ketiga: Makna "وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ" (dan kepada ampunan-Mu dari siksa-Mu). Ini adalah bentuk perlindungan dengan sifat ampunan Allah dari siksa-Nya. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa seorang hamba tidak bisa lepas dari dosa, maka ia berlindung dengan ampunan Allah dari azab-Nya. Ini menunjukkan keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja').

Keempat: Makna "لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ" (Aku tidak dapat menghitung pujian-Mu). Ibn Katsir menjelaskan bahwa maknanya adalah manusia tidak akan pernah mampu menyebutkan seluruh pujian yang layak bagi Allah, tidak mampu menghitungnya, dan tidak mampu menunaikan hak-Nya dalam pujian. Ini adalah pengakuan kelemahan hamba di hadapan keagungan Allah. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa ini juga menunjukkan bahwa pujian Allah tidak terbatas dan tidak terhingga.

Kelima: Makna "أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ" (Engkau adalah seperti yang Engkau puji pada diri-Mu). Ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah yang paling tahu tentang diri-Nya sendiri, dan pujian yang paling sempurna adalah pujian yang Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa sifat-sifat Allah tidak bisa dibatasi oleh akal manusia, dan kita hanya bisa mengenal Allah sebatas yang Dia beritahukan melalui wahyu.

Keenam: Tambahan lafazh "وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ". Imam At-Tirmidzi menyebutkan tambahan ini dari jalur lain. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa maknanya adalah berlindung kepada Allah dari siksa-Nya, dari murka-Nya, dan dari segala hal yang tidak diridhai-Nya. Ini bukan berarti berlindung dari Dzat Allah, tetapi berlindung dari sifat-sifat-Nya yang menuntut hukuman, dengan sifat-sifat-Nya yang menuntut rahmat.

Perbedaan pendapat: Para ulama dalam daftar tidak berbeda pendapat tentang keutamaan doa ini. Yang ada adalah perbedaan dalam hal redaksi tambahan, di mana sebagian riwayat menyebutkan "وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ" dan sebagian tidak. Imam At-Tirmidzi sendiri menyebutkan keduanya dan menghukumi hadits ini sebagai hasan. Yang paling kuat adalah bahwa kedua lafazh tersebut sah dan bisa diamalkan, karena keduanya datang dari jalur yang diterima.

Story Telling

Diceritakan bahwa suatu malam, Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha terbangun dan tidak mendapati Nabi ﷺ di sisinya. Beliau pun meraba-raba dalam kegelapan, mencari dengan penuh kecintaan dan kecemasan. Tangannya kemudian menyentuh kaki Nabi ﷺ yang sedang bersujud. Saat itulah beliau mendengar Nabi ﷺ mengucapkan doa yang agung ini dengan penuh kekhusyukan.

Bayangkanlah: Nabi ﷺ, manusia paling mulia, yang dosanya telah diampuni, masih bersujud di tengah malam, merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui bahwa beliau tidak mampu menghitung pujian untuk Allah. Ini adalah pelajaran bagi kita semua, bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin besar pula tawadhu-nya kepada Allah.

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Adzkar bahwa doa ini termasuk doa yang dianjurkan dibaca dalam sujud, dan para salafus shalih sangat menjaga doa ini. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang hamba yang mengenal Allah akan semakin merasa kecil di hadapan-Nya, dan semakin banyak bersyukur atas nikmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak doa dalam sujud, karena sujud adalah waktu paling dekat dengan Allah.
  2. Hafalkan dan amalkan doa ini dalam sujud, terutama pada shalat malam atau witir.
  3. Renungkan makna doa ini: bahwa kita berlindung kepada ridha Allah dari murka-Nya, dan kepada ampunan-Nya dari siksa-Nya.
  4. Sadari kelemahan diri: kita tidak akan pernah mampu menghitung pujian yang layak bagi Allah, maka jangan pernah merasa cukup dalam beribadah dan berdoa.
  5. Jaga keseimbangan antara khauf (takut) dan raja' (harap): takut kepada siksa Allah, namun berharap kepada ampunan-Nya.
  6. Teladani tawadhu Nabi ﷺ: meskipun beliau sudah dijamin masuk surga, beliau tetap bersujud dan merendahkan diri di hadapan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?