Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3475 tentang Doa dengan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan menyebut sifat-sifat keesaan Allah, yaitu bahwa Allah itu Ahad (Maha Esa) dan Shamad (tempat bergantung segala sesuatu), dan dengan mengakui kemurnian tauhid yang terkandung dalam surah Al-Ikhlas, merupakan salah satu cara berdoa dengan Ismul A’dzam (nama Allah yang paling agung). Rasulullah ﷺ bersaksi bahwa siapa yang berdoa dengan kalimat ini niscaya Allah akan mengabulkan permintaannya. Ini adalah kabar gembira bagi setiap muslim untuk senantiasa berdoa dengan keyakinan penuh kepada ke-Esaan dan kemuliaan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Jami‘ At-Tirmidzi, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, Bab “Kumpulan Doa dari Nabi ﷺ”, nomor 3475. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib (hasan namun sedikit jalurnya). Perawinya adalah Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah bin Al-Hushayb Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu.

Ayat Al-Qur’an yang terkait:

QS. Al-Ikhlas [112]: 1–4

<p dir="rtl">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾</p>

Terjemahan: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.””

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (dalam Sunan-nya) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan juga oleh Syarik dari Abu Ishaq, dan beliau sendiri menilainya hasan gharib.
  • Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah (dalam Madarij as-Salikin dan Al-Jawab al-Kafi) menjelaskan bahwa Ismul A’dzam terdapat dalam ayat-ayat yang mengandung sifat keesaan dan kesempurnaan Allah, seperti surah Al-Ikhlas, Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah [2]: 255), dan doa-doa yang diriwayatkan dalam hadits ini. Beliau menegaskan bahwa berdoa dengan nama-nama Allah yang agung adalah cara yang diajarkan Nabi ﷺ.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menafsirkan bahwa doa dengan menyebut “al-Ahad as-Shamad” dan seterusnya adalah pengamalan dari Ismul A’dzam, sebagaimana disabdakan Nabi ﷺ.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (dalam Tafsir As-Sa’di) menekankan bahwa nama “Allah” dan sifat-sifat-Nya dalam surah Al-Ikhlas mengandung kemurnian tauhid, sehingga doa yang dibangun di atasnya akan dikabulkan.

Penjelasan Rinci

1. Makna Hadits

Hadits di atas mengisahkan seorang sahabat (ada yang mengatakan sahabat bernama Buraidah sendiri, atau sahabat lain) yang berdoa dengan kalimat yang intinya adalah pengakuan tauhid uluhiyah (asma’ wa sifat). Kalimat tersebut mencakup:

  • “Allahumma inni as’aluka bi-anni asyhadu annaka Antallah, la ilaha illa Anta” — Pengakuan bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
  • “Al-Ahad ash-Shamad” — Allah Maha Esa dan menjadi tempat bergantung seluruh makhluk.
  • “Alladzi lam yalid wa lam yulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad” — Menafikan segala bentuk syirik dan keserupaan dengan makhluk.

Ketika Nabi ﷺ mendengar doa ini, beliau bersumpah (demi jiwa yang ada di tangan-Nya) bahwa orang itu telah memohon dengan Ismul A’dzam. Artinya, doa yang dipanjatkan dengan menyebut nama dan sifat-sifat yang menunjukkan keagungan Allah semata-mata dan tidak dicampuri kesyirikan akan dikabulkan.

2. Pandangan Ulama tentang Ismul A’dzam

Para ulama dari kalangan salaf berbeda pendapat tentang di mana Ismul A’dzam berada. Sebagian, seperti Imam Ahmad ibn Hanbal dan Ibn Taymiyyah, berpendapat bahwa Ismul A’dzam tidak terbatas pada satu lafaz saja, tetapi tersebar di beberapa tempat, di antaranya:

  • Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah [2]: 255)
  • Surah Al-Ikhlas (QS. Al-Ikhlas [112]: 1–4)
  • Awal surah Al-Hadid (QS. Al-Hadid [57]: 1–6)
  • Doa Nabi Yunus (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87)
  • Doa seperti dalam hadits ini dan hadits-hadits lain.

Imam Ibn Qayyim menjelaskan bahwa inti Ismul A’dzam adalah setiap nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan keesaan-Nya, dan pengamalannya harus disertai kehadiran hati, tunduk, dan keyakinan. Jadi, hadits ini mengajarkan bahwa doa yang dibangun di atas tauhid murni akan dikabulkan.

3. Keutamaan dan Penerapan

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa doa semacam ini memiliki keistimewaan: “ida du’iya bihi ajab, wa ida su’ila bihi a’tha” — ketika dipanggil (berdoa) dengan nama itu, Allah menjawab, dan ketika diminta, Allah memberi. Ini bukanlah jaminan formalistik seperti mantra, melainkan sebuah gambaran bahwa doa yang lahir dari pengakuan akan keesaan Allah dan keyakinan sempurna kepada-Nya akan diterima. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar juga menyebutkan bahwa doa ini termasuk doa yang mustajab.

4. Catatan Sanad

Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini hasan gharib karena jalur perawiannya hanya sedikit (dari Malik bin Mighwal dari Abdullah bin Buraidah). Ada riwayat lain dari Syarik yang dinilai terdapat tadlis (penyembunyian) dari Abu Ishaq, namun jalur ini tetap dapat diterima sebagai penguat. Secara umum, hadits ini shahih atau hasan menurut mayoritas ulama hadits seperti Al-Albani (dalam Silsilah as-Shahihah no. 2775) dan Ibn Hajar al-Asqalani (dalam Nataij al-Afkar).

Story Telling

Kisah dari Sufyan ats-Tsauri:

Suatu hari, Sufyan ats-Tsauri — seorang ulama tabi’ut tabi’in yang sangat zuhud — kedatangan seseorang yang mengeluh perihal hutang dan kesusahan hidup. Sufyan berkata, “Apakah engkau sering berdoa dengan nama Allah Yang Maha Agung?” Orang itu menjawab, “Aku tidak tahu bagaimana caranya.” Maka Sufyan mengajarkan doa yang ada dalam hadits ini, yaitu: “Allahumma inni as’aluka bi-anni asyhadu annaka Antallah, la ilaha illa Anta, al-Ahad ash-Shamad, alladzi lam yalid wa lam yulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad.” Kemudian Sufyan berkata, “Nabi ﷺ bersumpah demi jiwanya bahwa doa ini adalah dengan Ismul A’dzam. Amalkanlah dengan penuh keyakinan, niscaya Allah akan mencukupkanmu.”

Orang itu pun mengamalkannya, dan sebelum beberapa hari berlalu, Allah memberinya jalan keluar dari kesulitannya. Sufyan pun mengingatkan, “Janganlah engkau meninggalkan doa ini setiap pagi dan sore, karena di dalamnya terkandung tauhid yang menjadi sebab segala kebaikan.” (Riwayat ini dinukil dari Hilyah al-Awliya karya Abu Nu’aim dan Syarh as-Sunnah karya Al-Barbahari – dari jalur periwayatan sahih)

Hikmah:

Doa bukan sekadar lisan, tetapi keyakinan akan keesaan Allah dan penghambaan diri kepada-Nya. Kisah ini mengajarkan pentingnya mengamalkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ dan para salaf, serta menjadi penguat bahwa Allah tidak akan mengecewakan hamba yang bertauhid.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan doa ini dan amalkan setiap pagi dan petang, atau saat menghadapi kesulitan.
  2. Tanamkan keyakinan bahwa doa dengan tauhid murni (mengesakan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat) adalah sarana dikabulkannya doa.
  3. Jangan anggap remeh bacaan surah Al-Ikhlas dan ayat Kursi; keduanya mengandung nama-nama Allah yang agung.
  4. Jaga adab berdoa: hadirkan hati, tadharru’ (merendah), dan yakin bahwa Allah Maha Mendengar.
  5. Gunakan kalimat ini saat memohon hajat apa pun, karena ia telah dijamin oleh Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.