Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3439 tentang Doa Nabi saat bepergian untuk perlindungan keluarga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan doa yang dibaca Nabi ﷺ ketika hendak bepergian, berisi permohonan agar Allah menjadi pendamping dalam safar dan penjaga keluarga yang ditinggalkan, serta perlindungan dari berbagai kesulitan dan musibah. Doa ini mencakup tauhid, tawakal, dan adab safar yang diajarkan Nabi ﷺ. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu, dan terdapat dalam Jami' At-Tirmidzi no. 3439, kitab Doa, bab apa yang diucapkan ketika berangkat bepergian. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Teks doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ اصْحَبْنَا فِي سَفَرِنَا وَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِنَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ وَمِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْنِ وَمِنْ دَعْوَةِ الْمَظْلُومِ وَمِنْ سُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ

Terjemahan: "Ya Allah, Engkau adalah Teman dalam perjalanan dan Penjaga bagi keluarga. Ya Allah, temani kami dalam perjalanan kami dan jaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, dari kembalinya kesedihan, dari kehilangan setelah bertambah, dari doa orang yang teraniaya, dan dari pandangan buruk terhadap keluarga dan harta."

Ayat terkait — QS. Az-Zukhruf [43]: 12:

وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْفُلْكِ وَٱلْأَنْعَٰمِ مَا تَرْكَبُونَ

Terjemahan: "Dan (Dia) yang menciptakan segala pasangan, dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi."

Ayat lain — QS. Al-Mu'min [40]: 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Terjemahan: "Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu."

Penjelasan Rinci

1. Makna "Engkau adalah Teman dalam perjalanan dan Penjaga bagi keluarga"

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa doa ini mengandung tauhid yang sangat kuat: seorang musafir mengakui bahwa hanya Allah yang mampu menemani, melindungi, dan menjaga keluarganya. Manusia yang bepergian meninggalkan keluarganya tanpa pengawasan fisik, namun Allah adalah Al-Hafizh (Maha Penjaga) yang tidak pernah tidur.

2. Makna "Aku berlindung dari kesulitan perjalanan"

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wa'tsa'us safar mencakup kelelahan, kesulitan transportasi, bahaya di jalan, dan segala kesempitan yang dialami musafir. Nabi ﷺ mengajarkan agar seorang muslim tidak mengandalkan kekuatan diri, tetapi berlindung kepada Allah.

3. Makna "Kembali dalam kesedihan" (ka'abatul munqalab)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ka'abah adalah kesedihan yang berat. Maksudnya, seorang musafir berlindung agar tidak pulang menemukan musibah pada keluarganya — seperti kematian, sakit, atau kerusakan harta.

4. Makna "Al-Haur ba'dal Kaun"

At-Tirmidzi menyebut riwayat lain: al-haur ba'dal kaur. Beliau menjelaskan maknanya: kembali dari iman kepada kekufuran, atau dari ketaatan kepada kemaksiatan — yakni kembali kepada sesuatu yang buruk setelah sebelumnya berada dalam kebaikan. Ini sebagaimana disebutkan Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif bahwa seorang hamba harus khawatir jika amalnya berpindah dari ketaatan menuju kemaksiatan.

5. Makna "Doa orang yang teraniaya"

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa orang yang dizalimi tidak terhalang oleh hijab, sebagaimana hadits Nabi ﷺ: "Takutlah doa orang yang teraniaya, karena ia naik ke langit seperti kilat." Musafir rentan dizalimi, maka ia berlindung dari menjadi penyebab munculnya doa tersebut.

6. Makna "Pandangan buruk terhadap keluarga dan harta"

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ini mencakup perlindungan dari melihat keluarga/harta dalam keadaan rusak, atau dari pandangan yang membuat hati gelisah dan sedih saat kembali.

Perbedaan pendapat ulama daftar: Tidak ada perbedaan mendasar di antara mereka tentang makna doa ini. Yang ada hanyalah variasi riwayat lafazh (al-haur ba'dal kaun / al-kaur), dan At-Tirmidzi sendiri menyatakan keduanya memiliki makna yang sahih.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu — beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَافَرَ يَقُولُ... (doa di atas)

Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa Abdullah bin Sarjis adalah sahabat yang banyak meriwayatkan doa-doa safar Nabi ﷺ. Suatu ketika beliau melihat Nabi ﷺ mengucapkan doa ini dengan penuh kekhusyukan sebelum berangkat, mengajarkan kepada para sahabat bahwa safar bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani yang membutuhkan perlindungan Allah.

Hikmah: Seorang salaf berkata — sebagaimana dinukil Ibn Rajab al-Hanbali — "Barangsiapa ingin selamat dalam safarnya, hendaklah ia menjadikan Allah sebagai teman perjalanannya, bukan sekadar bekal materi."

Kesimpulan Praktis

  1. Baca doa ini sebelum berangkat safar — baik safar jauh maupun dekat, sebagai bentuk tawakal kepada Allah.
  2. Yakinlah bahwa Allah adalah Penjaga keluarga — jangan hanya mengandalkan CCTV, tetangga, atau keamanan materi.
  3. Berlindung dari "al-haur ba'dal kaun" — jaga iman dan ketaatan, jangan sampai kembali dari safar dengan hati yang berubah menjadi lalai.
  4. Jauhi menzalimi orang lain — karena doa orang teraniaya mustajab, terutama saat safar.
  5. Perbanyak doa untuk keluarga yang ditinggalkan, bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?