Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3438 tentang Doa Nabi saat bepergian memohon perlindungan dan keselamatan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan doa yang dibaca Nabi ﷺ ketika menaiki kendaraan untuk safar (bepergian). Isinya adalah penyerahan diri kepada Allah sebagai Penjaga diri dan keluarga yang ditinggalkan, permohonan agar perjalanan diringankan, serta perlindungan dari kesulitan safar dan kesedihan saat kembali. Doa ini menunjukkan adab seorang muslim yang selalu menyertakan Allah dalam setiap perjalanan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi no. 3438, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dan beliau menilai hadits ini hasan gharib. Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan jalur lain melalui Abdullah bin al-Mubarak (salah satu ulama dalam daftar) dari Syu'bah dengan makna yang sama.

Adapun ayat yang berkaitan dengan adab safar dan tawakal:

QS. Az-Zukhruf [43]: 13-14

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ

"Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali."

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini dibaca ketika seseorang menaiki kendaraan, sebagai pengakuan bahwa Allah-lah yang memudahkan sarana perjalanan, dan bahwa setiap perjalanan pada akhirnya adalah perjalanan menuju Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa kalimat doa yang penuh makna. Mari kita uraikan satu per satu dengan penjelasan para ulama dalam daftar rujukan:

1. "اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ"

(Ya Allah, Engkau adalah Teman dalam perjalanan dan Penjaga bagi keluarga)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "Ash-Shahib" di sini adalah Allah senantiasa menyertai hamba-Nya dengan pemeliharaan dan pertolongan-Nya, bukan dalam arti tempat atau fisik. Sedangkan "Al-Khalifah fil Ahl" berarti Allah-lah yang menjaga keluarga yang ditinggalkan. Ini menunjukkan bahwa seorang musafir menyerahkan dua hal kepada Allah: dirinya yang sedang dalam perjalanan, dan keluarganya yang ditinggal di rumah.

2. "اللَّهُمَّ اصْحَبْنَا بِنُصْحِكَ وَاقْلِبْنَا بِذِمَّةٍ"

(Ya Allah, temani kami dengan perlindungan-Mu dan kembalikan kami dengan jaminan keselamatan)

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa "nush" di sini bermakna penjagaan dan pemeliharaan. Seorang musafir memohon agar Allah menemaninya dengan penjagaan, dan mengembalikannya dalam keadaan aman, terjaga kehormatan dan agamanya.

3. "اللَّهُمَّ ازْوِ لَنَا الأَرْضَ وَهَوِّنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ"

(Ya Allah, dekatkanlah bumi bagi kami dan mudahkanlah perjalanan kami)

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ini adalah permohonan agar jarak yang jauh terasa dekat dan perjalanan yang berat terasa ringan — sebagaimana Allah mendekatkan bumi bagi para nabi dan orang-orang shalih. Ini termasuk doa yang mencakup kemudahan duniawi yang dibutuhkan seorang musafir.

4. "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ"

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan dan dari kembali dengan kesedihan)

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa "wa'tsa' as-safar" adalah kepayahan dan kesulitan yang biasa terjadi dalam perjalanan, sedangkan "ka'abatul munqalab" adalah kesedihan yang menimpa seseorang ketika kembali — baik karena musibah yang menimpa keluarga, kerugian harta, atau hal-hal buruk lainnya. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa doa ini juga mencakup perlindungan dari kembali dalam keadaan kufur atau fasik, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.

Catatan tentang sanad: Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa beliau awalnya hanya mengetahui hadits ini dari jalur Ibn Abi 'Adi, kemudian Suaid bin Nashr meriwayatkannya dari Abdullah bin al-Mubarak dari Syu'bah dengan makna yang sama. Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki penguat dari jalur lain, sehingga dapat diamalkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله — seorang ulama besar yang zuhud dan ahli hadits — ketika beliau melakukan perjalanan haji dari Marw menuju Makkah, beliau sering mengulang doa-doa safar ini. Dalam perjalanannya yang panjang, beliau dikenal selalu tenang dan tidak mengeluh, karena beliau meyakini bahwa Allah-lah "Ash-Shahib fis safar" — Teman dalam perjalanan. Para murid beliau menceritakan bahwa beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah merasa sendirian dalam perjalanan, karena aku tahu siapa yang menemaniku." (Disebutkan secara makna dalam biografi beliau oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala').

Hikmahnya: doa safar bukan sekadar bacaan rutin, tetapi penghayatan bahwa Allah benar-benar menyertai hamba-Nya yang bertawakal.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini ketika menaiki kendaraan untuk safar, sebagaimana Nabi ﷺ mengucapkannya sambil mengisyaratkan dengan jari.
  2. Serahkan diri dan keluarga kepada Allah — yakinlah bahwa Allah adalah Penjaga terbaik.
  3. Mintalah kemudahan perjalanan dan perlindungan dari kesulitan serta kesedihan saat kembali.
  4. Amalkan dengan hati yang hadir, bukan sekadar lisan, karena doa ini mengandung tauhid dan tawakal yang mendalam.
  5. Ajarkan kepada keluarga agar mereka juga terbiasa berdoa saat bepergian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?