Penjelasan Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 3423
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan menjelaskan tata cara shalat Nabi ﷺ secara terperinci: beliau mengangkat kedua tangan sejajar bahu pada empat tempat (takbiratul ihram, sebelum rukuk, setelah bangkit dari rukuk, dan ketika bangkit dari dua sujud), serta membaca doa-doa tertentu di setiap gerakan shalat. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi, dan menjadi dalil bagi Imam asy-Syafi'i tentang mengangkat tangan dalam shalat. Imam Ahmad bin Hanbal tidak mengamalkan pengangkatan tangan pada semua tempat tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang dibaca dalam doa iftitah:
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Aku hadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am [6]: 79)
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am [6]: 162)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, melalui jalur Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari Musa bin 'Uqbah, dari Abdullah bin al-Fadhl, dari Abdurrahman al-A'raj, dari Ubaidillah bin Abi Rafi'. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Kaitan dengan ulama:
- Imam asy-Syafi'i mengamalkan hadits ini dan berpendapat mengangkat tangan dilakukan pada empat tempat tersebut.
- Imam Ahmad bin Hanbal tidak mengamalkan pengangkatan tangan pada semua tempat yang disebutkan.
- Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa sebagian ulama Kufah berpendapat doa iftitah ini hanya dibaca pada shalat sunnah, bukan shalat wajib.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas perbedaan pendapat tentang pengangkatan tangan, dan keduanya cenderung menguatkan pendapat yang mengamalkannya berdasarkan banyaknya riwayat shahih.
Penjelasan Rinci
1. Pengangkatan Tangan (Raf'ul Yadain)
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengangkat kedua tangan sejajar bahu pada empat keadaan:
- Takbiratul ihram — saat memulai shalat wajib
- Sebelum rukuk — setelah selesai membaca
- Setelah bangkit dari rukuk — saat mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah"
- Ketika bangkit dari dua sujud — untuk rakaat berikutnya
Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa mengangkat tangan pada keempat tempat ini adalah sunnah yang diamalkan, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits serupa dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Imam Ahmad bin Hanbal — sebagaimana disebutkan Imam At-Tirmidzi — tidak mengamalkan pengangkatan tangan pada semua tempat tersebut. Namun Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa riwayat-riwayat tentang raf'ul yadain sangat banyak dan shahih, dan beliau menguatkan pendapat yang mengamalkannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa hadits-hadits tentang raf'ul yadain mencapai puluhan riwayat, dan tidak ada satu pun yang secara tegas menasakh (menghapus) amalan ini.
2. Doa Iftitah
Doa iftitah yang diajarkan dalam hadits ini mengandung beberapa makna mendalam:
- Pengakuan tauhid — "Aku hadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit dan bumi"
- Penyerahan total — "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah"
- Pengakuan dosa — "Aku telah menzalimi diriku dan aku mengakui dosaku"
- Permohonan ampunan — "Maka ampunilah semua dosaku"
- Permohonan akhlak mulia — "Tuntunlah aku kepada akhlak yang terbaik"
Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa doa iftitah ini termasuk doa yang paling lengkap dan mencakup berbagai aspek kebutuhan hamba.
3. Doa Rukuk dan Sujud
Dalam rukuk, Nabi ﷺ membaca:
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَأَنْتَ رَبِّي خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Ya Allah, kepada-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, Engkau adalah Tuhanku. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, dan tulangku tunduk kepada Allah, Tuhan semesta alam."
Dalam sujud:
اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَأَنْتَ رَبِّي سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
"Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, Engkau adalah Tuhanku. Wajahku sujud kepada Yang menciptakannya, dan memberikan pendengaran dan penglihatan. Maha Suci Allah, Pencipta terbaik."
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Al-Khushu' fi ash-Shalah menjelaskan bahwa doa-doa ini menunjukkan kekhusyukan Nabi ﷺ yang sempurna, di mana seluruh anggota tubuh tunduk kepada Allah.
4. Doa Setelah Shalat
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
"Ya Allah, ampunilah aku apa yang telah aku lakukan dan yang terkemudian, yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan. Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa doa ini mencakup permohonan ampunan untuk seluruh dosa, baik yang lalu maupun yang akan datang, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه — sepupu dan menantu Nabi ﷺ — adalah salah satu sahabat yang paling tekun memperhatikan gerakan-gerakan shalat Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan hadits ini untuk mengajarkan kepada umat Islam tentang tata cara shalat yang benar.
Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang terkenal — pernah berkata: "Wahai anak Adam, engkau tidak akan bisa khusyuk dalam shalatmu sampai engkau memahami bahwa Allah melihatmu." Beliau juga menekankan pentingnya mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam setiap gerakan shalat, termasuk pengangkatan tangan.
Sufyan ats-Tsauri — imam penduduk Kufah — meskipun beliau tidak mengamalkan raf'ul yadain pada semua tempat, beliau tetap menghormati perbedaan pendapat ini dan tidak mencela orang yang mengamalkannya. Ini menunjukkan adab salaf dalam menyikapi perbedaan fiqih.
Kesimpulan Praktis
- Mengangkat tangan pada empat tempat dalam shalat (takbiratul ihram, sebelum rukuk, setelah bangkit dari rukuk, dan ketika bangkit dari dua sujud) adalah sunnah yang memiliki dalil kuat, sebagaimana pendapat Imam asy-Syafi'i dan yang dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibn Qayyim.
- Membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram adalah sunnah yang dianjurkan, dan doa yang disebutkan dalam hadits ini adalah salah satu doa iftitah yang paling lengkap.
- Membaca doa rukuk dan sujud sesuai yang diajarkan Nabi ﷺ akan menambah kekhusyukan dan pahala.
- Membaca doa setelah shalat untuk memohon ampunan adalah amalan yang dianjurkan.
- Menghormati perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah raf'ul yadain, karena keduanya memiliki dalil dan ijtihad masing-masing.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.