Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3410 tentang Dzikir setelah shalat dan sebelum tidur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan dua amalan ringan yang jika dijaga seorang Muslim, ia dijanjikan masuk surga: (1) tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing sepuluh kali setelah selesai shalat fardhu (total 30 kali, menjadi 150 di lisan karena shalat lima waktu), dan (2) tasbih, takbir, dan tahmid sebelum tidur sebanyak seratus kali. Keduanya mudah, namun sedikit yang menjaga karena godaan setan yang menyibukkan hati saat shalat dan menidurkan seseorang sebelum berdzikir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Jami' At-Tirmidzi no. 3410, dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih." Beliau juga menyebut bahwa Syu'bah dan Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan hadits ini dari 'Atha' bin as-Sa'ib, dan al-A'masy meriwayatkannya secara ringkas.

Ayat yang menjadi landasan dzikir setelah shalat dan di waktu malam:

QS. An-Nisa' [4]: 103

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), berdzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring."

QS. Al-Ahzab [33]: 41–42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang."

Hadits pendukung — Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa bertasbih kepada Allah tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat…" — dan dalam riwayat lain disebutkan penyempurnaannya menjadi seratus dengan tahlil. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dzikir setelah shalat adalah sunnah yang sangat ditekankan dan sebab pengampunan dosa.

Penjelasan Rinci

Makna "dua sifat" (خلتان). Yang dimaksud adalah dua kebiasaan amal, bukan dua akhlak. Rasulullah ﷺ menyebutnya "يسير" (mudah) — karena hanya berupa ucapan lisan yang tidak memerlukan tenaga, waktu lama, atau harta.

Bilangan 150 di lisan dan 1500 di timbangan. Setiap shalat fardhu: 10 tasbih + 10 tahmid + 10 takbir = 30 ucapan. Dikalikan lima waktu = 150 ucapan lisan. Karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali (sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An'am [6]: 160), maka menjadi 1.500 kebaikan di timbangan. Inilah yang diisyaratkan Rasulullah ﷺ: "فَتِلْكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُمِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ."

Dzikir sebelum tidur. 100 ucapan (33 tasbih, 33 tahmid, 34 takbir menurut riwayat lain, atau 100 dengan tahlil penyempurna) menjadi 1.000 kebaikan di timbangan. Total keduanya: 2.500 kebaikan setiap hari dan malam.

Mengapa sedikit yang mengamalkan? Rasulullah ﷺ menjelaskan: setan mendatangi seseorang saat shalat dengan membisikkan urusan dunia sehingga ia berpaling sebelum sempat berdzikir; dan setan mendatanginya saat berbaring dengan membuatnya mengantuk hingga tertidur sebelum berdzikir. Inilah yang dimaksud "لا يحصيها" — bukan karena amalannya berat, tetapi karena kelalaian dan bisikan setan.

Pemahaman ulama daftar:

  • Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar dan Syarh Muslim menegaskan bahwa dzikir setelah shalat dan sebelum tidur termasuk sunnah yang muakkadah, dan menyebutkan bahwa sebab sedikitnya pengamal adalah tipu daya setan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dzikir yang ringan namun besar pahalanya, dan bahwa syaratnya adalah menjaga (menghitung) dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar mengucapkan tanpa perhatian.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa dzikir di akhir shalat dan di waktu tidur adalah penutup hari seorang hamba dengan ketaatan, sehingga setan berusaha menghalanginya.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir adalah sebab utama ketenangan hati dan pengampunan dosa, dan bahwa amalan yang tampak kecil bisa menjadi besar karena keikhlasan dan penjagaan.
  • Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami' dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih, dan menegaskan bahwa bilangan-bilangan tersebut bersifat tauqifi (ditetapkan syariat) sehingga tidak boleh diubah.

Perbedaan riwayat bilangan sebelum tidur: Sebagian riwayat menyebut 33 tasbih, 33 tahmid, 34 takbir (seperti dalam Shahih Bukhari dari Ali bin Abi Thalib). Hadits At-Tirmidzi ini menyebut 100 secara global. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menjamak (menggabungkan) bahwa boleh mengamalkan salah satu cara, dan yang paling utama adalah mengikuti riwayat yang paling shahih dan jelas bilangannya.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat yang rajin mencatat hadits dan diberi izin Nabi ﷺ untuk menulis — bahwa beliau sendiri melihat Rasulullah ﷺ menghitung dzikir-dzikir itu dengan tangan beliau. Beliau bersabda: "Aku melihat Rasulullah ﷺ mengikatnya dengan tangannya." Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ memperhatikan amalan ini secara praktis, bukan hanya menyampaikannya.

Dalam riwayat lain, ketika para sahabat bertanya: "Bagaimana kami bisa tidak menjaganya, padahal amalannya ringan?" Nabi ﷺ menjawab dengan menjelaskan tipu daya setan — bukan karena amalannya sulit, tetapi karena hati manusia lalai. (Disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab ini, dan dijelaskan oleh Ibn Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif.)

Hikmahnya: amalan yang tampak kecil bisa menjadi sebab masuk surga, jika dijaga dengan kesungguhan dan keikhlasan.

Kesimpulan Praktis

  1. Setelah setiap shalat fardhu, ucapkan: Subḥān Allāh 10x, Al-Ḥamdulillāh 10x, Allāhu Akbar 10x — sebelum beranjak atau berbicara urusan dunia.
  2. Sebelum tidur, ucapkan dzikir 100 kali (bisa dengan 33 tasbih, 33 tahmid, 34 takbir, atau 100 dengan tahlil penyempurna).
  3. Jaga dengan hitungan — gunakan jari atau alat bantu agar tidak lupa, meneladani Nabi ﷺ yang menghitung dengan tangan.
  4. Waspadai dua waktu godaan setan: saat shalat (bisikan urusan dunia) dan saat berbaring (rasa kantuk). Lawan dengan niat kuat dan dzikir segera.
  5. Jangan remehkan amalan kecil — keikhlasan dan penjagaan menjadikannya besar di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?