Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3358 tentang Pertanyaan pertama di hari kiamat tentang nikmat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang dahsyatnya pertanyaan nikmat di hari kiamat. Nikmat yang paling pertama ditanya bukanlah harta yang melimpah, melainkan nikmat yang sering kita lupakan: tubuh yang sehat dan air dingin yang segar untuk diminum. Ini adalah peringatan lembut dari Nabi ﷺ agar kita senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat dasar yang Allah berikan setiap hari, dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda tanyakan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab "Dari Surah At-Takatsur", nomor 3358. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini gharib (hanya diriwayatkan melalui satu jalur periwayatan).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadits ini berkaitan erat dengan firman Allah ﷻ dalam surah At-Takatsur:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia)." (QS. At-Takatsur [102]: 8)

Para ulama, di antaranya Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, menjelaskan bahwa ayat ini adalah ancaman bagi orang-orang yang lalai dan peringatan bagi orang-orang beriman untuk bersyukur. Beliau menukil pendapat para ulama salaf bahwa kenikmatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya di dunia, dan puncaknya adalah nikmat Islam dan iman.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang makna firman Allah dalam surah At-Takatsur ayat 8. Mari kita renungkan bersama:

1. Makna "Nikmat" yang Ditanyakan

Imam At-Tirmidzi menempatkan hadits ini dalam tafsir surah At-Takatsur, yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah penafsiran Nabi ﷺ terhadap ayat tersebut. Pertanyaan nikmat yang dimaksud bukanlah tentang harta kekayaan yang melimpah, tetapi lebih mendasar dari itu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kenikmatan yang ditanya adalah kenikmatan yang paling besar dan paling utama, yaitu:

  • Nikmat tubuh yang sehat dan bugar
  • Nikmat air dingin yang menyegarkan
  • Nikmat makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari

Ini menunjukkan bahwa nikmat-nikmat yang sering kita anggap remeh dan biasa-biasa saja, justru menjadi pertanyaan pertama di hari kiamat.

2. Hikmah Pertanyaan Nikmat

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Da'u wad-Dawa' menjelaskan bahwa hikmah ditanyakannya nikmat adalah untuk menunjukkan apakah hamba tersebut mensyukuri nikmat tersebut atau mengingkarinya. Beliau berkata, "Nikmat yang paling besar adalah nikmat kesehatan dan kelapangan. Jika seorang hamba menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, maka ia telah bersyukur. Namun jika ia menggunakannya untuk kemaksiatan, maka ia telah mengingkarinya."

3. Pelajaran dari Hadits

Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah Sunan At-Tirmidzi) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya nikmat kesehatan dan air. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa penyebutan "air dingin" secara khusus karena air adalah kebutuhan pokok manusia dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Air dingin juga merupakan kenikmatan yang paling terasa di daerah yang panas.

4. Hubungan dengan Surah At-Takatsur

Surah At-Takatsur berbicara tentang orang-orang yang sibuk dengan bermegah-megahan dalam harta, anak, dan keturunan, sehingga mereka lalai dari mengingat Allah dan bersyukur kepada-Nya. Ayat terakhirnya mengingatkan bahwa semua kenikmatan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri tentang ayat ini, beliau berkata: "Kenikmatan itu adalah kesehatan badan, pendengaran, dan penglihatan. Allah akan bertanya kepada hamba-Nya tentang bagaimana ia menggunakan nikmat-nikmat tersebut; apakah digunakan untuk ketaatan atau kemaksiatan."

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh dari seorang ulama salaf tentang rasa syukur atas nikmat kesehatan. Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf, di antaranya disebutkan dari kalangan tabi'in, ketika mereka ditimpa musibah atau sakit, mereka justru bersyukur kepada Allah dengan empat hal:

  1. Bersyukur karena musibah itu tidak lebih besar dari yang menimpanya
  2. Bersyukur karena tidak diuji dengan musibah dalam agamanya
  3. Bersyukur karena tetap bisa bersabar
  4. Bersyukur karena berharap pahala dari Allah

Ini menunjukkan pemahaman mereka yang mendalam tentang nikmat. Mereka tidak hanya melihat nikmat dari sisi materi, tetapi juga dari sisi spiritual. Kesehatan badan adalah nikmat yang sangat besar, namun yang lebih besar lagi adalah kesehatan hati untuk bisa bersabar dan bersyukur.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Perbanyak syukur atas nikmat kesehatan - Setiap kali kita merasa sehat dan bisa beraktivitas, ingatlah bahwa ini adalah nikmat yang akan ditanyakan di hari kiamat.
  2. Gunakan nikmat untuk ketaatan - Tubuh yang sehat dan air yang segar seharusnya digunakan untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk bermaksiat kepada-Nya.
  3. Jangan meremehkan nikmat kecil - Nikmat seperti air minum yang segar adalah nikmat yang sangat besar. Jangan menunggu kehilangan untuk merasakan nikmatnya.
  4. Renungkan surah At-Takatsur - Bacalah surah ini dan renungkan maknanya agar kita tidak termasuk orang-orang yang lalai karena sibuk bermegah-megahan.
  5. Biasakan doa syukur - Perbanyak membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana muslimin" (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan menjadikan kami orang-orang Islam).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?