Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan dua peristiwa penting: pertama, semangat Nabi ﷺ dalam berjuang di jalan Allah hingga terluka, yang beliau hadapi dengan sabar dan penuh keyakinan. Kedua, hadits ini menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) awal surat Ad-Dhuha, yang merupakan jawaban langsung dari Allah atas tuduhan dan ejekan orang-orang musyrik bahwa Nabi ﷺ telah ditinggalkan oleh Rabbnya. Surat ini turun sebagai penghibur dan penegasan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dan tidak membenci Nabi-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
"Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu." (QS. Ad-Dhuha [93]: 3)
Hadits Terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya (no. 3345), dari sahabat Jundab bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4984) dengan lafaz yang semakna.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa sebab turunnya surat Ad-Dhuha adalah karena adanya jeda waktu turunnya wahyu, sehingga orang-orang musyrik mengejek Nabi ﷺ dengan mengatakan bahwa Rabbnya telah meninggalkannya dan membencinya.
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab tafsirnya, menunjukkan bahwa hadits ini adalah penjelasan Nabi ﷺ tentang asbabun nuzul surat Ad-Dhuha.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pelajaran besar:
Pertama: Keteguhan dan Kesabaran Nabi ﷺ dalam Berjuang
Dalam riwayat lain yang semakna, disebutkan bahwa peristiwa jari berdarah ini terjadi saat Perang Uhud atau perang lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini menunjukkan akhlak yang agung—beliau tidak mengeluh dan tidak berkeluh kesah atas musibah, bahkan menjadikannya sebagai bahan syair yang menunjukkan keridhaan dan keikhlasan dalam berjuang di jalan Allah. Ini adalah pelajaran tentang ash-shabru 'alal bala' (sabar atas ujian) dan al-ih'tisab (mengharap pahala dari Allah).
Kedua: Asbabun Nuzul Surat Ad-Dhuha
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil dari para ulama bahwa setelah wahyu berhenti turun untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata, "Sesungguhnya Rabb Muhammad telah meninggalkannya dan membencinya." Maka Allah menurunkan surat Ad-Dhuha sebagai bantahan langsung. Ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya dan bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.
Imam As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi Nabi ﷺ bahwa Allah tidak meninggalkannya dan tidak membencinya. Bahkan sebaliknya, Allah selalu menjaganya, menolongnya, dan menurunkan wahyu kepadanya sesuai hikmah-Nya.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari sahabat Jundab bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu—beliau adalah perawi hadits ini. Suatu ketika, beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ terluka di medan perang, namun beliau tidak mengeluh. Bahkan dengan tenang beliau bersyair:
"Apakah engkau hanyalah sebuah jari yang berdarah, dan di jalan Allah apa yang engkau hadapi."
Ini adalah gambaran jiwa yang besar—tidak menganggap remeh pengorbanan, namun juga tidak larut dalam kesedihan. Beliau mengajarkan bahwa setiap tetes darah yang keluar di jalan Allah adalah saksi keimanan dan akan menjadi pahala di sisi-Nya.
Kemudian, saat wahyu berhenti turun dan orang-orang musyrik mengejek, Allah langsung menurunkan surat Ad-Dhuha. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang mulia itu dalam kesedihan tanpa jawaban dan penghiburan.
Kesimpulan Praktis
- Sabar dan ikhlas dalam ujian — Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak mengeluh saat tertimpa musibah, terlebih jika itu dalam rangka berjuang di jalan Allah.
- Yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman — keterlambatan pertolongan atau wahyu bukan berarti Allah benci, tetapi ada hikmah yang Allah kehendaki.
- Jangan mudah terpancing ejekan musuh — orang-orang musyrik mengejek Nabi ﷺ, namun Allah membela dan menghiburnya dengan wahyu.
- Pelajari asbabun nuzul — memahami sebab turunnya ayat membantu kita memahami makna dan konteksnya dengan benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.