Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3329 tentang Larangan tergesa-gesa membaca Al-Qur'an saat diturunkan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan adab Nabi ﷺ saat menerima wahyu Al-Qur'an. Awalnya beliau ﷺ sangat bersemangat menggerakkan lidahnya untuk segera menghafal ayat yang turun, karena khawatir lupa. Maka Allah menurunkan QS. Al-Qiyamah [75]: 16 yang melarang beliau ﷺ terburu-buru, dan menjamin bahwa Allah sendiri yang akan mengumpulkan dan memudahkan hafalan Al-Qur'an di dadanya. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tenang dan tawakal dalam menerima ilmu, serta meyakini bahwa Allah yang memudahkan urusan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Qiyamah [75]: 16-19

Teks Arab:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ ﴿١٦﴾ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ ﴿١٨﴾ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ ﴿١٩﴾

Terjemahan:

"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kamilah yang bertugas mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskannya." (QS. Al-Qiyamah [75]: 16-19)

Hadits:

Hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya (no. 3329), dan beliau menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang semakna.

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun karena Rasulullah ﷺ ketika menerima wahyu dari Jibril, beliau ﷺ sangat bersemangat untuk segera menghafalnya, sehingga beliau ﷺ menggerakkan lidah dan kedua bibirnya dengan cepat. Maka Allah melarang hal itu dan menjamin bahwa Dia sendiri yang akan mengumpulkan Al-Qur'an di dada beliau ﷺ dan memudahkan beliau ﷺ untuk membacanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/295)

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ sebagai manusia biasa memiliki rasa cemas dan sangat bersemangat dalam menerima wahyu. Beliau ﷺ khawatir jika tidak segera mengulang-ulang ayat yang turun, maka akan hilang dari ingatannya. Oleh karena itu, beliau ﷺ menggerakkan lidahnya dengan cepat untuk menghafal.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan dalam ayat ini adalah larangan untuk terburu-buru dalam membaca Al-Qur'an saat masih dalam proses penurunan wahyu. Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk diam dan mendengarkan dengan seksama, karena Allah yang akan menjamin hafalannya. (Tafsir As-Sa'di, hal. 885)

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 5) dari Ibnu Abbas, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling baik dalam memberi, dan beliau ﷺ sangat bersemangat dalam (menghafal) Al-Qur'an. Maka turunlah ayat ini."

Dari sini, para ulama mengambil beberapa pelajaran penting:

  1. Adab Menerima Ilmu: Ketika seorang guru atau pembimbing sedang menyampaikan ilmu, hendaknya murid bersikap tenang, mendengarkan dengan saksama, dan tidak memotong atau terburu-buru bertanya. Sebagaimana Nabi ﷺ diperintahkan untuk diam saat Jibril membacakan wahyu.
  2. Tawakal kepada Allah: Usaha manusia itu penting, tetapi hasil akhir dan kemudahan datang dari Allah. Nabi ﷺ berusaha menghafal, namun Allah mengajarkan untuk berserah diri karena Dialah yang memudahkan.
  3. Kemuliaan Al-Qur'an: Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dijaga langsung oleh Allah, baik dalam bentuk hafalan di dada maupun dalam bentuk tulisan. Ini adalah bukti keistimewaan umat ini.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (6/84) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menggerakkan bibir saat membaca Al-Qur'an untuk membantu lisan, namun tidak boleh berlebihan hingga mengganggu kekhusyukan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ sangat bersemangat dalam menghafal Al-Qur'an. Ketika Jibril turun membawa wahyu, beliau ﷺ segera menggerakkan lidahnya untuk mengulang-ulang ayat tersebut. Maka Allah menurunkan ayat: 'Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.' Maka setelah itu, jika Jibril datang, beliau ﷺ diam dan mendengarkan. Apabila Jibril telah pergi, barulah beliau ﷺ membacanya sebagaimana yang diajarkan." (HR. Al-Bukhari, no. 5)

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita tentang adab yang agung dalam menuntut ilmu. Semangat yang tinggi harus dibarengi dengan kesabaran dan ketenangan. Terkadang, yang terbaik bukanlah terburu-buru, tetapi mendengarkan dengan penuh perhatian agar ilmu yang didapat lebih sempurna dan berkah.

Kesimpulan Praktis

  1. Diam dan Fokus: Saat mendengarkan pengajian atau pelajaran, dengarkan dengan tenang hingga selesai, jangan memotong pembicaraan.
  2. Tawakal Setelah Berusaha: Lakukan usaha maksimal dalam menghafal dan belajar, lalu serahkan hasilnya kepada Allah.
  3. Yakin dengan Janji Allah: Allah telah berjanji akan memudahkan Al-Qur'an untuk diingat dan dipahami. Maka jangan ragu untuk terus belajar.
  4. Amalkan Ilmu: Ilmu yang didapatkan harus diamalkan, bukan hanya dihafal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?