Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3318 tentang Nasihat Umar tentang dua istri Nabi yang bertobat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah panjang yang sangat agung dari sahabat Ibnu Abbas dan Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhuma tentang sebab turunnya awal Surah At-Tahrim. Hadits ini mengajarkan kita tentang adab seorang suami terhadap istri, keutamaan Aisyah dan Hafshah radhiyallahu 'anhuma, keteladanan Nabi ﷺ dalam kesabaran dan kelembutan, serta pelajaran berharga tentang zuhud dan tidak silau dengan kemewahan dunia. Inti dari hadits ini adalah bahwa Allah ﷻ menurunkan teguran kepada dua istri Nabi ﷺ karena mereka membantah beliau, namun Allah tetap menjaga kehormatan mereka sebagai Ummahatul Mukminin.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. At-Tahrim [66]: 4

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

"Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran); dan jika kamu berdua saling bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sungguh, Allah menjadi pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu, malaikat-malaikat adalah penolongnya."

QS. Al-Ahzab [33]: 28

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, 'Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu pemberian yang menyenangkan dan aku lepaskan kamu dengan cara yang baik.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah At-Tahrim, no. 3318. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2463, 4914, 5196) dan Imam Muslim (no. 1479) dengan redaksi yang serupa.

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), salah satu ulama tabi'in yang sangat dihormati dan termasuk dalam daftar rujukan kita. Beliau adalah ulama besar dalam bidang hadits dan sirah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak pelajaran penting:

1. Sebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul):

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa awal Surah At-Tahrim turun berkenaan dengan kisah Nabi ﷺ yang memakan madu di rumah Zainab binti Jahsy, lalu Aisyah dan Hafshah bersekongkol untuk menyusahkan beliau. Namun dalam hadits yang kita bahas ini, fokus utamanya adalah teguran Allah kepada Aisyah dan Hafshah karena keduanya membantah Nabi ﷺ dalam urusan rumah tangga.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai teguran halus kepada Aisyah dan Hafshah, namun tetap dalam kerangka kasih sayang dan penghormatan. Allah tidak menyebut nama mereka secara langsung, tetapi cukup dengan kata "kamu berdua" (تتُوبَا) yang menunjukkan kelembutan Allah kepada keduanya.

2. Kisah Umar dan Adabnya:

Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu awalnya tidak suka ditanya tentang hal ini oleh Ibnu Abbas, namun beliau tetap menjawab dengan jujur. Ini menunjukkan bahwa seorang alim atau pemimpin boleh merasa tidak nyaman dengan suatu pertanyaan, tetapi tetap wajib menyampaikan kebenaran. Az-Zuhri berkata: "Demi Allah, beliau tidak suka dengan pertanyaan itu, namun beliau tidak menyembunyikannya."

3. Pelajaran tentang Kehidupan Rumah Tangga:

Kisah Umar yang menceritakan bahwa orang Quraisy terbiasa "mengalahkan" wanita mereka, lalu setelah di Madinah mereka melihat para wanita Anshar lebih berani berbicara kepada suami mereka, menunjukkan bahwa perbedaan budaya bisa mempengaruhi dinamika rumah tangga. Namun yang penting, Nabi ﷺ tetap bersabar dengan kondisi ini dan tidak pernah marah secara berlebihan.

4. Kisah Nabi ﷺ Mengasingkan Diri:

Ketika Nabi ﷺ bersumpah untuk tidak memasuki istri-istrinya selama sebulan karena kejadian tersebut, beliau mengasingkan diri di kamar atas (masyrabah). Ini adalah bentuk pendidikan yang sangat halus. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ ini adalah bentuk teguran yang penuh hikmah, bukan kemarahan yang meledak-ledak.

5. Zuhudnya Nabi ﷺ:

Saat Umar masuk dan melihat bekas tikar di sisi tubuh Nabi ﷺ, serta hanya melihat tiga lembar kulit di rumah tersebut, beliau menangis dan meminta Nabi ﷺ mendoakan kelapangan untuk umatnya. Namun Nabi ﷺ menjawab: "Apakah engkau ragu wahai Ibnul Khaththab? Mereka adalah kaum yang kebaikannya telah disegerakan di dunia." Ini menunjukkan bahwa kemewahan dunia bukanlah tanda kemuliaan di sisi Allah.

6. Pilihan Aisyah radhiyallahu 'anha:

Ketika Nabi ﷺ membacakan ayat pilihan (QS. Al-Ahzab: 28-29) kepada Aisyah, beliau tidak ragu memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Ini adalah kemuliaan besar bagi Aisyah. Bahkan beliau meminta Nabi ﷺ untuk tidak memberi tahu istri-istri yang lain bahwa beliau telah memilih Rasulullah ﷺ, dan Nabi ﷺ menjawab: "Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai penyampai, bukan sebagai pemberi kesulitan."

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah dari Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu tentang kezuhudan Nabi ﷺ. Ketika Umar masuk ke kamar Nabi ﷺ dan melihat bekas tikar di tubuh beliau, Umar menangis. Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?" Umar menjawab, "Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis? Padahal engkau adalah utusan Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan seperti ini. Sementara raja-raja Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan."

Nabi ﷺ bersabda: "Tidakkah engkau ridha wahai Umar, bahwa untuk kita adalah akhirat, dan untuk mereka adalah dunia?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kenikmatan dunia yang paling besar sekalipun tidak akan pernah bisa menandingi kenikmatan akhirat. Para sahabat memahami hal ini dengan sangat dalam, sehingga mereka rela hidup sederhana demi meraih kemuliaan di sisi Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Adab bertanya kepada ulama: Boleh bertanya meskipun pertanyaan itu terasa berat, selama disampaikan dengan adab dan niat yang baik.
  2. Kejujuran dalam menyampaikan ilmu: Seorang alim harus jujur meskipun pertanyaan terasa tidak nyaman baginya.
  3. Adab rumah tangga: Suami istri hendaknya saling menghormati. Membantah dengan cara yang baik masih bisa ditoleransi, tetapi jangan sampai menyakiti hati pasangan.
  4. Kesabaran Nabi ﷺ: Beliau tidak pernah membalas dengan kasar, tetapi memilih mengasingkan diri sebagai bentuk teguran yang halus.
  5. Zuhud dan tidak silau dengan dunia: Kemewahan dunia bukanlah ukuran kemuliaan. Yang mulia di sisi Allah adalah ketakwaan.
  6. Prioritas akhirat: Seperti Aisyah yang memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, hendaknya kita juga menjadikan akhirat sebagai prioritas utama dalam hidup.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.