Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3309 tentang Larangan berkata tanpa perbuatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan sekelompok sahabat yang ingin tahu amal paling dicintai Allah, lalu turunlah QS. As-Saff ayat 1-2 yang menegur orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa kejujuran dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan adalah amal yang sangat dicintai Allah. Pelajaran utamanya adalah kita harus berhati-hati dalam berkata dan berjanji, serta berusaha menepati apa yang kita ucapkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. As-Saff [61]: 1-2

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya: "Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?"

Hadits:

Hadits riwayat At-Tirmidzi nomor 3309, dari Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu. Hadits ini diriwayatkan melalui jalur Al-Awza'i dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abdullah bin Salam.

Kaitan dengan Ulama:

  • Al-Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) mengumpulkan hadits ini dalam kitab tafsirnya.
  • Al-Imam Al-Awza'i (w. 157 H) adalah seorang tabi'in dan imam ahli fiqih serta hadits dari Syam. Beliau meriwayatkan hadits ini.
  • Yahya bin Abi Katsir (w. 129 H) adalah seorang tabi'in yang tsiqah (terpercaya) dan banyak meriwayatkan hadits.
  • Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu adalah sahabat Nabi yang berasal dari kalangan Yahudi Madinah yang masuk Islam.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki sanad yang menarik karena para perawinya saling membacakan hadits ini secara berantai, menunjukkan semangat mereka dalam menyampaikan ilmu. Inti hadits ini adalah tentang turunnya QS. As-Saff ayat 1-2 sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat tentang amal yang paling dicintai Allah.

Makna Ayat:

Ayat ini adalah teguran keras dari Allah kepada orang-orang yang beriman agar tidak berkata-kata yang tidak mereka lakukan. Al-Imam Ibn Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berkata "Kami berperang, kami berperang" tetapi mereka tidak ikut berperang. Namun, maknanya umum mencakup setiap perkataan yang tidak diikuti perbuatan, baik dalam hal kewajiban, sunnah, maupun janji.

Pandangan Ulama:

  • Al-Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) – meskipun tidak termasuk dalam daftar ulama yang disebut, namun penjelasannya sejalan dengan ulama lain – mengatakan bahwa ayat ini adalah peringatan agar seorang mukmin tidak menjanjikan sesuatu lalu mengingkarinya, dan tidak mengatakan kebaikan lalu meninggalkannya.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencela sifat munafik, yaitu berbeda antara lahir dan batin, antara ucapan dan perbuatan. Beliau menekankan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang ucapannya sesuai dengan perbuatannya.

Pelajaran dari Hadits:

  1. Keutamaan Mencari Ilmu: Para sahabat duduk bersama untuk mencari tahu amal yang paling dicintai Allah. Ini menunjukkan semangat mereka dalam menuntut ilmu dan beramal.
  2. Teguran Langsung dari Allah: Allah langsung menurunkan ayat sebagai jawaban, menunjukkan betapa pentingnya masalah konsistensi antara ucapan dan perbuatan.
  3. Kejujuran adalah Ciri Iman: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) sering menekankan bahwa kejujuran (ash-shidq) adalah fondasi semua amal saleh. Sedangkan kebohongan dan kemunafikan adalah pangkal keburukan.
  4. Hati-hati dalam Berjanji: Jangan mudah berjanji jika tidak mampu menepati. Jika terlanjur berjanji, maka wajib ditepati.

Catatan Sanad:

At-Tirmidzi menyebutkan bahwa ada perbedaan dalam sanad hadits ini. Sebagian perawi meriwayatkannya dari Al-Awza'i melalui jalur Hilal bin Abi Maimunah dari Atha' bin Yasar dari Abdullah bin Salam. Namun, riwayat yang paling masyhur adalah melalui jalur Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah. Perbedaan ini tidak mempengaruhi keabsahan hadits secara umum, karena semua jalur kembali kepada Abdullah bin Salam.

Story Telling

Kisah Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu:

Abdullah bin Salam adalah seorang pendeta Yahudi yang sangat alim di Madinah. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau datang untuk bertanya beberapa hal untuk menguji kenabian beliau. Setelah yakin, beliau langsung masuk Islam. Beliau berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Yahudi adalah kaum yang suka berdusta. Jika mereka tahu aku masuk Islam, mereka akan mencelaku di hadapanmu." Maka Rasulullah ﷺ memanggil mereka dan bertanya tentang kedudukan Abdullah bin Salam di antara mereka. Mereka menjawab, "Dia adalah orang yang paling alim dan paling baik di antara kami." Lalu Rasulullah ﷺ memberitahu bahwa Abdullah telah masuk Islam. Mereka pun mulai mencacinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa Abdullah bin Salam adalah seorang yang jujur dan berani. Beliau tidak takut celaan manusia demi kebenaran. Inilah sifat yang diajarkan dalam hadits ini: konsisten antara keyakinan dan perbuatan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jujurlah dalam setiap ucapan, karena Allah membenci orang yang berkata tetapi tidak berbuat.
  2. Jika berjanji, tepati janji, baik kepada Allah maupun sesama manusia.
  3. Jangan mudah mengaku-ngaku melakukan kebaikan yang belum dilakukan.
  4. Semangatlah mencari ilmu seperti para sahabat, agar tahu amal yang paling dicintai Allah.
  5. Muhasabah diri setiap hari: apakah ucapanku sesuai dengan perbuatanku?

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.