Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3286 tentang Mukjizat terbelahnya bulan sebagai tanda kebesaran Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan mukjizat agung Nabi ﷺ, yaitu terbelahnya bulan menjadi dua bagian di hadapan penduduk Makkah ketika mereka meminta bukti kenabian. Peristiwa ini terjadi di Makkah dan menjadi sebab turunnya awal Surat Al-Qamar. Ini adalah mukjizat yang nyata dan termasuk perkara yang wajib diimani oleh setiap muslim.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

"Telah dekat saatnya (hari kiamat) dan telah terbelah bulan."

(QS. Al-Qamar [54]: 1)

Hadits:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surat Al-Qamar, nomor 3286. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi sendiri. Sahabat yang meriwayatkan adalah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (ulama tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan) dari Anas bin Malik. Para ulama dari kalangan ahli tafsir seperti Ibnu Katsir dan As-Sa'di menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan ini adalah mukjizat yang nyata dan terjadi di zaman Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan ini terjadi sebelum hijrah Nabi ﷺ ke Madinah. Penduduk Makkah, terutama orang-orang kafir Quraisy, meminta Nabi ﷺ untuk menunjukkan sebuah mukjizat sebagai bukti kebenaran kenabiannya. Maka Allah ﷻ membelah bulan menjadi dua bagian di hadapan mereka.

Qatadah (sebagaimana dalam sanad hadits ini) menjelaskan bahwa bulan terbelah menjadi dua bagian, dan ini adalah mukjizat yang nyata. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi di Makkah, dan para ulama sepakat bahwa ini adalah mukjizat yang benar-benar terjadi.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar tentang dekatnya hari kiamat dan bukti kekuasaan Allah ﷻ. Terbelahnya bulan adalah mukjizat yang Allah perlihatkan kepada Rasul-Nya ﷺ sebagai penguat dakwahnya.

Adapun perkataan orang-orang kafir bahwa ini adalah "sihir yang terus menerus" (سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ), Qatadah menafsirkan "mustamirr" dengan makna "dzahib" (pergi/hilang), yaitu sihir yang akan hilang dan tidak akan bertahan. Ini menunjukkan bahwa mereka mengingkari mukjizat tersebut dan menganggapnya sebagai sihir, padahal mereka sendiri menyaksikannya secara langsung.

Perlu dipahami bahwa mukjizat terbelahnya bulan ini adalah perkara yang nyata dan tidak boleh ditakwilkan sebagai khayalan atau mimpi. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits-hadits tentang terbelahnya bulan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan banyak sahabat), sehingga wajib diimani.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa penduduk Makkah meminta Nabi ﷺ untuk menunjukkan mukjizat. Maka Allah ﷻ membelah bulan menjadi dua bagian. Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu (disebutkan oleh Imam Al-Bukhari), beliau berkata: "Ketika bulan terbelah di zaman Nabi ﷺ, kami melihat gunung berada di antara dua bagian bulan tersebut."

Peristiwa ini disaksikan langsung oleh orang-orang kafir Quraisy, namun mereka tetap mengingkarinya dan berkata, "Ini adalah sihir yang telah mempengaruhi mata kami." Sebagian mereka berkata, "Jika Muhammad telah menyihir kami, maka dia tidak bisa menyihir semua orang. Mari kita tanya para musafir yang datang dari luar kota." Ketika para musafir datang, mereka pun bersaksi bahwa mereka juga melihat bulan terbelah. Namun demikian, mereka tetap tidak beriman karena kesombongan dan keingkaran mereka.

Hikmah dari kisah ini: Mukjizat yang paling jelas sekalipun tidak akan bermanfaat bagi orang yang hatinya telah tertutup oleh kesombongan dan keingkaran. Iman adalah anugerah dari Allah ﷻ yang diberikan kepada hamba-Nya yang ikhlas mencari kebenaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mengimani bahwa bulan pernah terbelah menjadi dua bagian sebagai mukjizat Nabi ﷺ. Ini adalah perkara yang nyata, bukan khayalan atau mimpi.
  2. Mukjizat ini menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan kekuasaan Allah ﷻ yang tidak terbatas.
  3. Jangan meniru sikap orang-orang kafir yang mengingkari kebenaran meskipun bukti telah jelas di hadapan mereka.
  4. Ambil pelajaran bahwa kedekatan hari kiamat adalah kepastian, maka kita harus mempersiapkan diri dengan amal shalih.
  5. Perbanyak merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an yang menceritakan kekuasaan Allah ﷻ agar iman kita semakin kuat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.