Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3235 tentang Mimpi Nabi melihat Allah dan pertanyaan malaikat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu dalam Jami' At-Tirmidzi no. 3235, dan dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi serta dikuatkan oleh Imam Al-Bukhari (Muhammad bin Isma'il). Isinya: Nabi ﷺ memberitahu para sahabat bahwa beliau "terlambat" shalat Subuh karena tertidur dalam shalat malam, lalu dalam tidurnya beliau melihat Tuhannya dalam bentuk yang paling baik, dan Rabb-nya mengajarkan kepada beliau perkara-perkara yang menjadi perdebatan para malaikat di langit tertinggi — yaitu amalan-amalan penghapus dosa dan pengangkat derajat. Hadits ini mengajarkan kita amalan-amalan mulia: langkah ke masjid, duduk menunggu shalat, menyempurnakan wudhu, memberi makan, berkata lembut, dan shalat malam.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

Firman Allah tentang perdebatan para malaikat di langit tertinggi:

QS. Shad [38]: 69

إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

Terjemahan: "Tidaklah diwahyukan kepadaku melainkan bahwa aku hanyalah pemberi peringatan yang nyata."

Dan firman Allah:

QS. Shad [38]: 67-68

قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ ۞ أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling darinya.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah Shad, no. 3235, dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih." Beliau juga bertanya kepada Imam Al-Bukhari (Muhammad bin Isma'il) yang menegaskan: "Hadits ini hasan shahih."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi dan Imam Al-Bukhari menilai hadits ini hasan shahih.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas hadits serupa (hadits ru'yah/penampakan) dan menjelaskan bahwa ini termasuk hadits-hadits sifat (shifat) yang wajib diimani tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "perdebatan malaikat tertinggi" (الملأ الأعلى) terkait dengan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah yang harus diterima apa adanya (itsbat) tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah dan kitab-kitabnya membahas hadits ini dalam konteks keutamaan amalan-amalan tersebut.

Penjelasan Rinci

1. Konteks hadits:

Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa suatu pagi Nabi ﷺ terlambat datang untuk shalat Subuh hingga hampir matahari terbit. Beliau keluar dengan cepat, shalat disiapkan, dan beliau shalat dengan ringkas. Setelah salam, beliau memerintahkan para sahabat tetap di barisan mereka, lalu menjelaskan sebab keterlambatannya.

2. Penglihatan Nabi ﷺ terhadap Rabb-nya:

Nabi ﷺ bersabda bahwa beliau bangun malam, berwudhu, shalat, lalu tertidur dalam shalatnya. Dalam tidur itu beliau melihat Tuhannya "dalam bentuk yang paling baik" (في أحسن صورة). Ini termasuk hadits-hadits sifat yang wajib diimani sebagaimana datangnya, tanpa:

  • Tahrif (mengubah makna),
  • Ta'thil (menolak sifat),
  • Takyif (menanyakan bagaimana),
  • Tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Ibn Taymiyyah menegaskan dalam Majmu' al-Fatawa bahwa Ahlus Sunnah mengimani hadits-hadits ru'yah dan sifat sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, berdasarkan firman Allah:

QS. Asy-Syura [42]: 11

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

3. Perdebatan para malaikat tertinggi (الملأ الأعلى):

Allah bertanya kepada Nabi ﷺ: "Apa yang menjadi perdebatan para malaikat yang paling tinggi?" Nabi ﷺ menjawab tidak tahu (diulang tiga kali). Lalu Allah meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua bahu Nabi ﷺ hingga beliau merasakan kesejukan jari-jari-Nya di dadanya, dan segala sesuatu menjadi jelas bagi beliau.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "الملأ الأعلى" adalah para malaikat di langit tertinggi yang berdiskusi tentang amalan-amalan yang mendekatkan hamba kepada Allah. Perdebatan mereka bukan perselisihan, tetapi pembicaraan tentang amalan mana yang paling utama.

4. Amalan-amalan yang disebutkan:

Nabi ﷺ menjawab bahwa perdebatan mereka adalah tentang penghapus dosa (الكفارات) , yaitu:

a. Menyempurnakan wudhu di waktu-waktu yang tidak disukai (إسباغ الوضوء في المكروهات) — yaitu berwudhu dengan sempurna meskipun dalam cuaca dingin atau keadaan sulit.

b. Langkah kaki menuju jamaah (مشي الأقدام إلى الجماعات) — berjalan ke masjid untuk shalat berjamaah.

c. Duduk di masjid setelah shalat (الجلوس في المساجد بعد الصلوات) — menunggu shalat berikutnya di masjid.

Kemudian amalan yang mengangkat derajat (الدرجات) :

a. Memberi makan (إطعام الطعام).

b. Berkata lembut (لين الكلام).

c. Shalat malam ketika orang-orang tidur (الصلاة بالليل والناس نيام).

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa amalan-amalan ini adalah amalan yang paling utama karena menggabungkan antara hak Allah (shalat, wudhu, masjid) dan hak manusia (memberi makan, berkata lembut).

5. Doa Nabi ﷺ:

Nabi ﷺ diajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Terjemahan: "Ya Allah, aku meminta kepada-Mu untuk melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku dan mengasihani aku. Dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa fitnah. Aku meminta kepada-Mu cinta-Mu, cinta siapa pun yang Engkau cintai, dan cinta perbuatan yang mendekatkan kepada cinta-Mu."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa doa ini mencakup seluruh kebaikan agama dan dunia: melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, cinta kepada Allah dan orang-orang shalih, serta husnul khatimah.

6. Catatan sanad:

Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa Abdurrahman bin 'Aisy al-Hadhrami tidak mendengar langsung dari Nabi ﷺ (beliau adalah tabi'in), sehingga hadits ini munqathi' dari sisi ini. Namun Imam At-Tirmidzi dan Imam Al-Bukhari menilai hadits ini hasan shahih karena memiliki jalur-jalur lain yang saling menguatkan.

Story Telling

Kisah Mu'adz bin Jabal dan hadits ini:

Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dicintai Nabi ﷺ. Beliau pernah diutus ke Yaman sebagai hakim dan pengajar. Dalam suatu pagi, beliau dan para sahabat menunggu Nabi ﷺ untuk shalat Subuh hingga hampir matahari terbit. Ketika Nabi ﷺ datang, beliau shalat dengan ringkas, lalu memerintahkan para sahabat tetap di tempat, dan menceritakan apa yang terjadi.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat perhatian kepada para sahabatnya — beliau tidak membiarkan mereka bertanya-tanya, tetapi langsung menjelaskan sebab keterlambatannya. Ini juga menunjukkan keutamaan shalat malam dan betapa besar kedudukan amalan-amalan yang disebutkan hingga menjadi perdebatan para malaikat di langit tertinggi.

Hikmah: Amalan-amalan yang tampak sederhana — berjalan ke masjid, duduk menunggu shalat, memberi makan, berkata lembut, shalat malam — ternyata sangat besar nilainya di sisi Allah hingga para malaikat pun memperdebatkannya. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan amalan kecil, karena bisa jadi amalan itu yang menyelamatkan kita di akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Imankan hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, berdasarkan QS. Asy-Syura [42]: 11.
  2. Hidupkan amalan penghapus dosa:
  • Menyempurnakan wudhu meskipun dalam keadaan sulit.
  • Berjalan ke masjid untuk shalat berjamaah.
  • Duduk di masjid menunggu shalat berikutnya.
  1. Hidupkan amalan pengangkat derajat:
  • Memberi makan kepada orang lain.
  • Berkata lembut dan baik.
  • Shalat malam ketika orang-orang tidur.
  1. Amalkan doa Nabi ﷺ yang diajarkan dalam hadits ini, karena mencakup seluruh kebaikan.
  2. Jangan meremehkan amalan kecil, karena bisa jadi amalan itu yang paling besar di sisi Allah.
  3. Pelajari dan ajarkan hadits ini kepada keluarga dan orang lain, sebagaimana perintah Nabi ﷺ: "Sesungguhnya ini adalah kebenaran, maka pelajarilah dan amalkanlah."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?