Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 3153 ini menceritakan tentang Ya'juj dan Ma'juj yang terus berusaha menembus dinding penghalang (sadd) yang dibangun Dzulqarnain. Setiap kali mereka hampir berhasil, Allah mengembalikan dinding itu seperti semula. Ketika waktunya tiba, mereka berhasil keluar, berbuat kerusakan, lalu Allah membinasakan mereka dengan makhluk kecil di tengkuk mereka. Hadits ini mengajarkan bahwa kekuasaan Allah mengatur segala sesuatu, dan kesombongan manusia pasti berakhir dengan kehancuran.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Kahf [18]: 98
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
Terjemahan: "Dan pada hari itu Kami biarkan mereka (Ya'juj dan Ma'juj) berbaur antara satu dengan yang lain, dan (apabila) sangkakala ditiup (lagi), akan Kami kumpulkan semuanya."
QS. Al-Anbiya' [21]: 96
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ
Terjemahan: "Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Surat Al-Kahf, no. 3153. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib."
Kaitan dengan ulama:
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (tabi'in) adalah perawi dalam sanad hadits ini, dan beliau dikenal sebagai mufassir yang menjelaskan ayat-ayat tentang Ya'juj dan Ma'juj.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan kisah Ya'juj dan Ma'juj berdasarkan ayat Al-Kahf dan hadits-hadits shahih, termasuk riwayat ini.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Ya'juj dan Ma'juj adalah dua umat besar dari keturunan Adam yang akan keluar di akhir zaman.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan beberapa poin penting:
Pertama: Usaha terus-menerus Ya'juj dan Ma'juj untuk menembus dinding.
Mereka menggali dinding yang dibangun Dzulqarnain setiap hari. Ketika hampir menembusnya, pemimpin mereka berkata: "Kembali, kalian akan menembusnya besok." Tetapi Allah mengembalikan dinding itu seperti semula. Ini menunjukkan bahwa segala usaha mereka sia-sia selama Allah belum mengizinkan.
Kedua: Pengecualian dengan "insya Allah".
Ketika waktu yang ditentukan Allah telah tiba, pemimpin mereka berkata: "Kembali, kalian akan menembusnya besok, insya Allah." Maka mereka kembali dan menemukan dinding itu dalam keadaan seperti saat mereka tinggalkan, lalu mereka berhasil menembusnya. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini adalah pelajaran tentang adab mengucapkan "insya Allah" dalam setiap rencana, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahf [18]: 23-24:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
Terjemahan: "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: 'Aku akan melakukan itu besok,' kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah.'"
Ketiga: Kerusakan yang ditimbulkan Ya'juj dan Ma'juj.
Mereka keluar dan meminum air, sehingga manusia melarikan diri dari mereka. Mereka melemparkan anak panah ke langit, dan panah itu kembali berlumuran darah. Mereka berkata dengan sombong: "Kami telah mengalahkan yang di bumi, dan kami akan mengalahkan yang di langit." Ini menunjukkan kesombongan mereka yang melampaui batas.
Keempat: Kebinasaan mereka.
Allah mengirimkan naghaf (sejenis cacing atau makhluk kecil) di tengkuk mereka, yang membinasakan mereka. Ibn Katsir dan Qatadah menyebutkan bahwa ini adalah bentuk pertolongan Allah kepada orang-orang beriman. Setelah mereka binasa, binatang-binatang bumi menjadi gemuk karena memakan daging mereka.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah menyatakan bahwa Ya'juj dan Ma'juj adalah keturunan Nabi Nuh dari anaknya Yafits. Ibn Katsir menguatkan pendapat ini berdasarkan riwayat-riwayat yang ada. Sedangkan Imam an-Nawawi menegaskan bahwa mereka adalah manusia biasa, bukan jin atau makhluk halus, berdasarkan hadits-hadits shahih.
Pendapat yang paling kuat:
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa Ya'juj dan Ma'juj adalah manusia dari keturunan Adam, dan kisah mereka adalah bagian dari tanda-tanda hari kiamat yang pasti terjadi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa suatu ketika Nabi ﷺ bersabda tentang Ya'juj dan Ma'juj:
"Mereka menggali dinding itu setiap hari. Ketika hampir menembusnya, pemimpin mereka berkata: 'Kembali, kalian akan menembusnya besok.' Maka Allah mengembalikan dinding itu seperti semula. Hingga ketika waktu yang ditentukan Allah tiba, pemimpin mereka berkata: 'Kembali, kalian akan menembusnya besok, insya Allah.' Maka mereka kembali dan menemukan dinding itu seperti saat mereka tinggalkan, lalu mereka menembusnya."
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa kisah ini adalah bagian dari tanda-tanda besar hari kiamat. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah dalam mengatur segala sesuatu, dan betapa lemahnya usaha manusia di hadapan-Nya.
Hikmah dari kisah ini:
- Segala usaha manusia tidak akan berhasil tanpa izin Allah.
- Ucapan "insya Allah" adalah adab yang diajarkan Islam dalam setiap rencana.
- Kesombongan akan berujung pada kehancuran.
- Allah selalu melindungi hamba-hamba-Nya yang beriman dari kejahatan.
Kesimpulan Praktis
- Bertawakal kepada Allah: Segala usaha kita harus disertai dengan tawakal dan doa kepada Allah, karena hanya Allah yang menentukan hasilnya.
- Membiasakan ucapan "insya Allah": Setiap kali kita berencana melakukan sesuatu, ucapkan "insya Allah" sebagai bentuk adab dan pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.
- Menjauhi kesombongan: Kisah Ya'juj dan Ma'juj mengajarkan bahwa kesombongan dan keangkuhan akan berakhir dengan kehancuran.
- Meyakini tanda-tanda kiamat: Kisah ini adalah bagian dari tanda-tanda hari kiamat yang harus kita imani.
- Bersyukur atas perlindungan Allah: Allah melindungi orang-orang beriman dari kejahatan Ya'juj dan Ma'juj dengan cara yang tidak terduga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.