Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah perjalanan Nabi Musa 'alaihis salam bersama Nabi Khidir 'alaihis salam, yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu. Kisah ini mengajarkan kita beberapa pelajaran besar: pertama, ilmu manusia itu terbatas dan hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu; kedua, adab seorang penuntut ilmu haruslah sabar dan tidak tergesa-gesa; ketiga, ada hikmah di balik setiap kejadian yang tampak buruk di mata kita, karena Allah mengatur segala sesuatu dengan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 60-82. Di antara ayat yang paling inti adalah:
QS. Al-Kahfi [18]: 66-67
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا
"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?' Dia menjawab: 'Sungguh, engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.'"
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surat Al-Kahf, nomor 3149. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan kisah ini secara panjang lebar, menukil perkataan para ulama salaf tentang identitas Khidir dan hikmah perjalanan ini.
- Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) membahas hadits ini dengan sangat rinci, termasuk masalah "Nawf Al-Bikali" yang keliru mengira Musa dalam kisah ini bukanlah Musa bin 'Imran.
- Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan hikmah-hikmah besar dari kisah Nabi Musa dan Khidir, terutama tentang kesabaran dalam menuntut ilmu.
Penjelasan Rinci
1. Latar Belakang Kisah
Kisah ini bermula ketika Nabi Musa 'alaihis salam berdiri berkhutbah di hadapan Bani Isra'il. Beliau ditanya, "Siapakah manusia yang paling berilmu?" Beliau menjawab, "Akulah yang paling berilmu." Jawaban ini keluar tanpa beliau sandarkan kepada ilmu Allah. Maka Allah menegur beliau karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah, lalu mewahyukan bahwa ada seorang hamba-Nya yang lebih berilmu dari Musa di pertemuan dua lautan.
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani menjelaskan bahwa teguran ini bukan karena Musa sombong, tetapi karena adab yang lebih utama adalah mengucapkan "Allahu a'lam" (Allah lebih mengetahui) ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak pasti. Ini adalah pelajaran adab yang sangat agung.
2. Perjalanan Mencari Khidir
Allah memerintahkan Musa untuk membawa ikan dalam keranjang (miktal). Tempat ikan itu hilang dan hidup kembali, di situlah ia akan bertemu Khidir. Musa berangkat bersama pembantunya, Yusya' bin Nun. Ketika mereka sampai di batu besar, ikan itu melompat keluar menuju laut, dan Allah menahan aliran air sehingga ikan itu berjalan di dasar laut meninggalkan lorong seperti terowongan.
Imam Ibnu Katsir menukil dari para ulama bahwa kejadian ini adalah mukjizat dari Allah untuk menunjukkan lokasi pertemuan dengan Khidir. Ikan yang sudah mati menjadi hidup kembali adalah tanda yang jelas.
3. Pertemuan dengan Khidir
Setelah kembali menelusuri jejak, mereka menemukan seorang laki-laki yang tertutup kain. Musa memberi salam, dan terjadilah dialog yang indah. Khidir berkata:
> "Wahai Musa! Sesungguhnya engkau memiliki ilmu dari Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya, dan aku memiliki ilmu dari Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya."
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan ilmu, dan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dalam bidang tertentu. Tidak ada seorang pun yang menguasai semua ilmu. Maka sikap yang benar adalah saling menghormati dan saling belajar.
4. Tiga Kejadian yang Diingkari Musa
Khidir mensyaratkan agar Musa tidak bertanya sampai Khidir sendiri yang menjelaskan. Namun Musa tidak sabar, dan terjadilah tiga kejadian:
Pertama: Khidir melubangi kapal yang membawa mereka dengan gratis. Musa mengingkarinya karena tampak seperti merusak.
Kedua: Khidir membunuh seorang anak kecil. Musa mengingkarinya dengan lebih keras karena tampak seperti pembunuhan tanpa dosa.
Ketiga: Khidir menegakkan dinding yang hampir roboh di desa yang penduduknya tidak mau menjamu mereka. Musa mengingkarinya karena tampak seperti perbuatan sia-sia tanpa imbalan.
Setelah kejadian ketiga, Khidir memutuskan untuk berpisah dan menjelaskan hikmah di balik semua itu:
- Kapal itu milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Di hadapan mereka ada raja yang merampas setiap kapal yang bagus. Maka Khidir merusaknya agar kapal itu selamat dari perampasan.
- Anak kecil itu kedua orang tuanya beriman, dan dikhawatirkan anak itu akan memaksa mereka kufur. Maka Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik dan lebih penyayang.
- Dinding itu milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta terpendam milik mereka. Ayah mereka adalah orang shalih, maka Allah menjaga harta itu hingga mereka dewasa.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu dengan hikmah, meskipun hikmah itu tersembunyi dari pandangan manusia. Apa yang tampak buruk bisa jadi baik, dan apa yang tampak baik bisa jadi buruk.
5. Pelajaran tentang Ilmu Allah
Di akhir kisah, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa Khidir berkata kepada Musa dengan perumpamaan seekor burung pipit yang menciduk air laut dengan paruhnya:
> "Ilmu saya dan ilmu kamu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali seperti apa yang burung pipit ini kurangi dari lautan."
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan yang sangat agung. Seluruh ilmu makhluk - baik manusia, jin, maupun malaikat - jika dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti setetes air dari lautan yang tak bertepi.
6. Pelajaran tentang Adab Menuntut Ilmu
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa kisah ini adalah pelajaran terbesar tentang adab murid terhadap guru:
- Tawadhu' - Musa yang merupakan Nabi yang mulia tetap merendahkan diri untuk belajar kepada Khidir.
- Sabar - Syarat utama menuntut ilmu adalah kesabaran, sebagaimana Khidir katakan: "Engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku."
- Tidak tergesa-gesa - Murid tidak boleh mempertanyakan setiap tindakan guru sebelum memahami hikmahnya.
- Ikhlas - Niat belajar semata-mata untuk mencari ilmu yang bermanfaat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Al-Madini - salah seorang guru Imam Al-Bukhari - sangat bersemangat dengan hadits ini. Beliau berkata:
> "Aku menunaikan ibadah haji, dan tidak ada keinginanku selain mendengar dari Sufyan bin 'Uyainah hadits ini secara lengkap. Aku telah mendengarnya sebelumnya, tetapi kali ini aku ingin mendengar bagian yang berisi kisah lengkapnya."
Akhirnya beliau mendengar hadits ini secara lengkap dari Sufyan bin 'Uyainah. Ini menunjukkan betapa para ulama sangat perhatian dengan periwayatan hadits, bahkan mereka bersusah payah untuk mendapatkan redaksi yang paling lengkap dan akurat.
Hikmah dari kisah ini: ilmu itu mahal, dan untuk mendapatkannya diperlukan kesungguhan, kesabaran, dan perjalanan yang panjang - sebagaimana Nabi Musa yang menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Khidir.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah mengklaim diri paling berilmu - selalu sandarkan ilmu kepada Allah dengan mengucapkan "Allahu a'lam" ketika tidak mengetahui.
- Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu - sebagaimana Musa yang menempuh perjalanan jauh demi bertemu guru.
- Bersabarlah dalam proses belajar - jangan tergesa-gesa menghakimi sebelum memahami hikmah di balik suatu pelajaran.
- Hormati guru dan jangan banyak bertanya sebelum waktunya - ikuti proses yang diajarkan.
- Yakinlah bahwa setiap kejadian ada hikmahnya - apa yang tampak buruk di mata kita, bisa jadi baik menurut Allah.
- Ilmu manusia sangat terbatas - jangan sombong dengan ilmu yang sedikit, karena ilmu Allah tidak terbatas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.