Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3146 tentang Tuntunan mengatur volume bacaan Al-Qur'an dalam salat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sebab turunnya (asbabun nuzul) QS. Al-Isra' [17]: 110. Ayat ini turun ketika Nabi ﷺ dan para sahabat masih bersembunyi di Makkah. Allah mengajarkan kepada Nabi-Nya untuk tidak mengeraskan suara bacaan Al-Qur'an dalam shalat karena akan membuat kaum musyrikin mendengar lalu mencela Al-Qur'an, dan juga tidak terlalu pelan sehingga para sahabat tidak bisa mendengar. Yang terbaik adalah mengambil jalan tengah di antara keduanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Isra' [17]: 110

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

"Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah (pula) merendahkannya, dan usahakanlah jalan tengah di antara kedua itu."

Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Bani Israil, nomor 3146, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini memiliki dua makna yang saling melengkapi:

Pertama: Makna yang berkaitan dengan sebab turunnya (asbabun nuzul)

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah ﷺ masih bersembunyi di Makkah. Ketika beliau shalat berjamaah dengan para sahabat, beliau mengeraskan bacaan Al-Qur'an. Kaum musyrikin yang mendengar bacaan tersebut lalu mencela Al-Qur'an, mencela Allah yang menurunkannya, dan mencela Nabi ﷺ yang membawanya. Maka Allah menurunkan ayat ini agar Nabi ﷺ tidak mengeraskan bacaannya sehingga kaum musyrikin tidak mendengar dan tidak mencela, dan juga tidak terlalu pelan sehingga para sahabat tidak dapat mendengar bacaannya. Beliau diperintahkan untuk mengambil jalan tengah.

Kedua: Makna yang berkaitan dengan doa dalam shalat

Ulama juga menyebutkan bahwa ada pendapat lain tentang makna ayat ini. Sebagian ulama seperti Mujahid dan Sa'id bin Jubair -yang merupakan perawi hadits ini- menyebutkan bahwa ayat ini juga turun berkaitan dengan doa dalam shalat. Maksudnya, jangan mengeraskan doa dan jangan pula terlalu pelan, tetapi di antara keduanya.

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan bahwa Ibnu Abbas menjelaskan makna ayat ini dengan dua penafsiran: pertama berkaitan dengan bacaan Al-Qur'an dalam shalat, dan kedua berkaitan dengan doa. Kedua makna ini saling melengkapi dan tidak bertentangan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung bimbingan adab yang sangat indah. Allah mengajarkan hamba-Nya untuk mengambil sikap pertengahan dalam segala urusan, tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan. Dalam konteks ini, seorang muslim diajarkan untuk menjaga keseimbangan antara menjaga kemaslahatan dirinya dan orang lain.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat yang sedang shalat di belakang Nabi ﷺ merasa khawatir tidak dapat mendengar bacaan beliau jika terlalu pelan. Namun mereka juga khawatir jika bacaan itu dikeraskan, kaum musyrikin akan semakin keras mencela. Maka Allah memberikan solusi yang bijaksana: ambillah jalan tengah.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa dalam beribadah pun, Islam mengajarkan keseimbangan. Bahkan dalam hal kebaikan sekalipun, kita tetap harus memperhatikan kondisi dan kemaslahatan. Ini menunjukkan betapa sempurnanya syariat Islam yang memperhatikan setiap detail kehidupan hamba-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga keseimbangan dalam beribadah - Jangan berlebihan dan jangan pula meremehkan. Ambillah jalan tengah yang diajarkan Islam.
  2. Memperhatikan kondisi sekitar - Dalam beribadah yang bersifat jahr (dikeraskan) seperti membaca Al-Qur'an, kita tetap harus memperhatikan keadaan sekitar agar tidak menimbulkan mudarat.
  3. Menjaga Al-Qur'an dari celaan - Ayat ini mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan Al-Qur'an, termasuk dengan tidak membacanya di tempat yang bisa memicu orang lain mencela.
  4. Adab dalam berdoa - Dalam berdoa, dianjurkan untuk tidak mengeraskan suara secara berlebihan dan tidak pula terlalu pelan, tetapi di antara keduanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?