Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3136 tentang Gambaran orang beriman dan kafir saat hari pemanggilan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keadaan manusia pada hari kiamat ketika Allah memanggil setiap umat beserta imam/pemimpin mereka. Bagi orang mukmin, Allah akan memuliakannya dengan memberikan kitab catatan amal di tangan kanan, memanjangkan tubuhnya hingga 60 hasta, memutihkan wajahnya, dan memakaikan mahkota mutiara yang berkilau. Adapun orang kafir, ia akan dihinakan dengan wajah yang menghitam, tubuh yang dipanjangkan dalam bentuk yang buruk, dan teman-temannya justru berlindung kepada Allah dari keburukannya. Hadits ini menunjukkan keadilan Allah dan balasan yang setimpal bagi setiap hamba sesuai amalnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Isra' [17]: 71

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍۭ بِإِمَامِهِمْ ۚ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَٰبَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

"Pada hari ketika Kami memanggil setiap umat dengan imam/pemimpinnya. Barangsiapa diberikan kitabnya di tangan kanannya, maka mereka itu akan membaca kitabnya (dengan gembira) dan mereka tidak akan dizalimi sedikit pun."

Hadits terkait:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab "Dan Dari Surah Bani Israil", no. 3136, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (209–279 H) memuat hadits ini dalam kitabnya dan memberikan penilaian hasan gharib.
  • Imam Ibnu Katsir (701–774 H) dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini dengan menyebutkan beberapa pendapat ulama salaf tentang makna "imam" dalam ayat tersebut.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (1307–1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "imam" adalah pemimpin dan panutan mereka, baik itu nabi, kitab, atau pemimpin yang diikuti.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "imam" dalam ayat ini:

  1. Pendapat pertama: Yang dimaksud dengan "imam" adalah kitab amal masing-masing. Ini adalah pendapat Mujahid bin Jabr, Qatadah, dan Ibnu Zaid sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Maksudnya, setiap orang dipanggil dengan catatan amalnya sendiri-sendiri.
  2. Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah nabi mereka masing-masing. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri dan Adh-Dhahhak. Maksudnya, setiap umat dipanggil bersama nabi yang diutus kepada mereka.
  3. Pendapat ketiga: Yang dimaksud adalah kitab Allah (Al-Qur'an) atau pemimpin mereka. Syaikh As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna yang lebih umum adalah setiap kelompok manusia dipanggil bersama pemimpin dan panutan mereka—baik itu nabi, ulama, atau pemimpin yang mereka ikuti di dunia.

Syaikh As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia akan dipanggil bersama orang-orang yang mereka jadikan panutan. Maka barangsiapa yang mengikuti para nabi dan ulama yang benar, ia akan mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, barangsiapa yang mengikuti pemimpin yang sesat, ia akan mendapatkan kebinasaan.

Adapun hadits yang Anda sebutkan menjelaskan secara rinci keadaan orang mukmin dan orang kafir pada hari tersebut:

Keadaan orang mukmin:

  • Diberikan kitab catatan amalnya di tangan kanan
  • Tubuhnya dipanjangkan hingga 60 hasta (sekitar 30 meter)
  • Wajahnya menjadi putih berseri
  • Dipakaikan mahkota dari mutiara yang berkilau
  • Teman-temannya yang melihat dari jauh justru mendoakan kebaikan dan keberkahan untuknya
  • Ia menyampaikan kabar gembira bahwa setiap orang di antara mereka akan mendapatkan seperti itu

Keadaan orang kafir:

  • Wajahnya menjadi hitam
  • Tubuhnya dipanjangkan hingga 60 hasta dalam bentuk yang buruk (bentuk Adam namun dengan keadaan yang menghinakan)
  • Dipakaikan mahkota (sebagai bentuk penghinaan)
  • Teman-temannya justru berlindung kepada Allah dari keburukannya dan berdoa agar ia tidak datang kepada mereka
  • Ketika ia datang, mereka berdoa agar Allah menghinakannya, dan ia pun berkata bahwa setiap orang di antara mereka akan mendapatkan seperti itu

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bagaimana Allah memuliakan orang-orang mukmin dan menghinakan orang-orang kafir pada hari kiamat, sebagai balasan yang setimpal atas amal mereka di dunia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah (21–110 H), seorang tabi'in yang terkenal dengan kezuhudan dan ketakwaannya, sering menangis ketika membaca ayat ini. Beliau berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya setiap kaum akan dipanggil dengan imam mereka. Maka barangsiapa yang imamnya adalah Nabi ﷺ, ia akan mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang imamnya adalah hawa nafsunya, maka ia akan tersesat."

Beliau juga pernah berkata: "Demi Allah, tidaklah seseorang mengikuti suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat. Maka lihatlah, siapa yang kalian jadikan panutan dan teladan."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa pilihan kita terhadap panutan dan pemimpin di dunia akan menentukan keadaan kita di akhirat. Maka hendaknya kita memilih panutan yang benar, yaitu para nabi, ulama Ahlus Sunnah, dan orang-orang shalih yang mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Pilih panutan yang benar — Jadikan Nabi ﷺ dan para ulama yang mengikuti petunjuk beliau sebagai imam dan teladan kita, karena setiap orang akan dipanggil bersama imamnya pada hari kiamat.
  2. Jaga amal ibadah — Amal kebaikan akan menjadi cahaya dan kebahagiaan di akhirat, sebagaimana orang mukmin dalam hadits ini mendapatkan kemuliaan karena amalnya.
  3. Jauhi perbuatan dosa — Dosa dan kekafiran akan menjadi sebab kehinaan di akhirat, sebagaimana orang kafir yang wajahnya menghitam dan dijauhi oleh teman-temannya.
  4. Perbanyak doa — Mohonlah kepada Allah agar termasuk golongan yang diberikan kitabnya di tangan kanan dan mendapatkan kemuliaan di hari kiamat.
  5. Jangan tertipu dengan pemimpin yang sesat — Hati-hatilah dalam memilih pemimpin, guru, dan panutan, karena pengaruhnya akan terasa hingga hari kiamat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.