Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan seorang sahabat yang terlanjur mencium wanita yang bukan mahramnya. Ia datang kepada Nabi ﷺ dengan perasaan bersalah dan bertanya tentang kafarat (tebusan) atas dosanya. Maka turunlah QS. Hud [11]: 114 yang memerintahkan mendirikan shalat di dua ujung siang dan sebagian malam, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan (terutama shalat) akan menghapus kesalahan-kesalahan. Nabi ﷺ menegaskan bahwa kabar gembira ini berlaku untuk orang tersebut dan seluruh umat Islam yang mengamalkannya. Ini adalah bukti nyata luasnya rahmat Allah dan mudahnya jalan taubat bagi hamba-Nya yang jujur menyesal.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Hud [11]: 114:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
"Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."
2. Hadits Riwayat:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Hud, no. 3114. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang bertakwa, bahwa shalat lima waktu dan amal-amal shalih lainnya dapat menghapus dosa-dosa kecil.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab At-Taubah, Bab: Taubat Diterima Selama Belum Sakaratul Maut) membawakan hadits ini sebagai dalil bahwa taubat yang jujur akan menghapus dosa, dan bahwa shalat serta amal shalih menghapus kesalahan-kesalahan kecil.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman saat menafsirkan ayat ini menegaskan bahwa "perbuatan baik" yang disebut dalam ayat ini bersifat umum, mencakup shalat, puasa, sedekah, dzikir, dan semua bentuk ketaatan, yang semuanya menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki latar belakang (asbabun nuzul) yang sangat indah dan penuh hikmah. Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan gelisah dan menyesal karena telah mencium seorang wanita yang bukan mahramnya. Ia bertanya tentang bagaimana cara menebus dosanya. Tidak lama kemudian, turunlah ayat QS. Hud [11]: 114 yang memerintahkan untuk menegakkan shalat di "dua ujung siang" (yaitu waktu subuh dan zuhur/ashar) dan "sebagian permulaan malam" (yaitu maghrib dan isya). Ayat ini kemudian ditutup dengan kalimat yang sangat menenangkan: "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk."
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "perbuatan baik" di sini adalah shalat lima waktu, karena shalat adalah amalan yang paling agung dan paling sering dilakukan seorang muslim setiap harinya. Namun, maknanya tidak terbatas pada shalat saja. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa semua ketaatan dan amal shalih yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi penghapus dosa-dosa kecil, selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.
Imam Ibnu Katsir menukil perkataan para ulama salaf bahwa ayat ini adalah dalil bahwa shalat lima waktu menghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara waktu-waktu shalat tersebut, selama tidak dilakukan secara terus-menerus dan tidak termasuk dosa besar. Ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya menghapus dosa-dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.
Yang menarik dalam hadits ini adalah dialog antara sahabat tersebut dengan Nabi ﷺ. Ketika ayat turun, ia bertanya dengan penuh harap dan sedikit ragu: "Apakah ini khusus untukku wahai Rasulullah?" Maka Nabi ﷺ menjawab dengan penuh kasih sayang: "Untukmu dan bagi siapa saja yang melakukan itu di antara umatku." Jawaban ini menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak terbatas pada satu orang atau satu generasi, tetapi terbuka lebar bagi seluruh umat Nabi Muhammad ﷺ hingga hari kiamat.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa pintu taubat dan penghapus dosa ini adalah karunia besar dari Allah untuk umat ini. Berbeda dengan umat-umat terdahulu yang terkadang harus menunggu turunnya azab atau melakukan ritual yang sangat berat untuk bertaubat, umat Nabi Muhammad ﷺ diberikan kemudahan yang luar biasa melalui shalat, istighfar, dan amal-amal kebaikan lainnya.
Namun perlu digarisbawahi, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah, bahwa penghapusan dosa dengan amal shalih ini berlaku untuk dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka ia membutuhkan taubat yang jujur dengan syarat-syaratnya: menyesali perbuatan, berhenti dari perbuatan tersebut, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus diselesaikan terlebih dahulu dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya.
Story Telling
Dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Seorang laki-laki mencium seorang wanita (yang bukan mahramnya)." Lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan mengabarkan hal itu. Maka Allah menurunkan ayat: "Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang..." (QS. Hud [11]: 114). Laki-laki itu bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untukku?" Beliau menjawab: "Untuk umatku semuanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini mengajarkan kita beberapa hal:
- Kejujuran dan keberanian untuk mengakui kesalahan. Sahabat ini tidak menyembunyikan dosanya, tetapi ia segera datang kepada Nabi ﷺ untuk mencari jalan keluar. Ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar beriman tidak akan merasa tenang dengan dosanya.
- Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak memarahi atau menghakimi sahabat tersebut, tetapi justru menyampaikan kabar gembira bahwa Allah telah menurunkan ayat yang menjadi solusi atas masalahnya.
- Luasnya rahmat Allah. Jawaban Nabi ﷺ bahwa ayat ini berlaku untuk seluruh umatnya adalah bukti bahwa rahmat Allah tidak pernah putus. Setiap kali kita jatuh dalam dosa kecil, maka kita memiliki jalan untuk membersihkannya dengan segera bertaubat dan memperbanyak amal shalih.
Kesimpulan Praktis
- Segera bertaubat setelah melakukan dosa. Jangan menunda-nunda taubat, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
- Jaga shalat lima waktu. Shalat adalah tiang agama dan penghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara waktu-waktunya.
- Perbanyak amal kebaikan. Setiap kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas akan menjadi cahaya yang menghapus kegelapan dosa.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa yang kita lakukan, pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
- Jauhi dosa-dosa besar. Karena dosa besar hanya terhapus dengan taubat yang jujur dan memenuhi syarat-syaratnya, bukan sekadar dengan amal shalih biasa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.